![]()
Jagoan Dalam Damai: Membongkar Maskulinitas dalam Bahasa Visual Kontemporer
Oleh : Lukman Zen

Lukisan Jagoan Dalam Damai karya Haris Nugroho menempatkan ayam jantan sebagai figur sentral untuk membangun dialog antara maskulinitas, identitas, dan kemungkinan rekonsiliasi visual. Dengan komposisi 100 x 100 cm dan medium cat minyak di kanvas, karya ini memadukan citra figuratif dengan struktur bidang geometris yang rapi, sehingga menghadirkan ketegangan menarik antara spontanitas makhluk hidup dan keteraturan abstraksi modern.
Pembacaan Visual
Pada lapis pertama, karya ini menampilkan beberapa ayam jantan berwarna menyala dan satu figur manusia yang tersenyum, ditempatkan dalam komposisi yang padat namun tetap terbaca. Latar berupa bidang-bidang persegi panjang berwarna netral memberi kesan modern, hampir seperti potongan arsitektural atau panel mozaik, yang sengaja dihadapkan dengan tubuh ayam yang organik dan penuh energi. Pertemuan dua sistem bentuk ini menciptakan ritme visual yang kuat: satu sisi geometris dan tenang, sisi lain hidup, tajam, dan penuh dominasi.
Kehadiran ayam jantan tidak sekadar dekoratif. Ia tampil sebagai ikon visual yang secara budaya sering diasosiasikan dengan keberanian, dominasi, pertarungan, dan harga diri. Namun, dalam karya ini, ayam-ayam tersebut tidak sedang bertarung, melainkan hadir dalam suasana yang relatif damai, bahkan seolah dikendalikan oleh kehadiran manusia yang tersenyum di tengah. Justru di situ letak daya tarik konseptual karya: simbol agresi dipindahkan ke dalam konteks yang menetralkan agresivitasnya, menghasilkan ironi yang lembut namun kuat.artsandculture.google+1
Ikonografi Ayam Jantan
Secara budaya, ayam jantan memiliki posisi simbolik yang luas di Indonesia. Google Arts & Culture mencatat bahwa di Asia Tenggara, ayam jago memiliki akar ritual, dan dalam konteks Indonesia ia berkaitan dengan tradisi sabung ayam, representasi maskulinitas, serta hadir pula dalam pola batik simbolik. Dalam sejarah seni modern Indonesia, ayam jago juga memiliki resonansi penting sebagai citra yang dipakai untuk mengekspresikan daya, ego, dan keberanian; karya Affandi dengan figur lelaki dan ayam jago menjadi salah satu contoh kuat bagaimana simbol ini berhubungan dengan identitas maskulin dan energi artistik.artsandculture.google+2
Dalam lukisan Haris Nugroho, simbol ayam jago diolah secara berbeda. Alih-alih menjadi lambang rivalitas, ia dibawa ke situasi yang lebih cair dan kontemplatif. Judul Jagoan Dalam Damai sendiri menyiratkan paradoks: “jagoan” biasanya identik dengan kuasa, ketegangan, dan pertarungan, sedangkan “damai” menegasikan perang. Karya ini memanfaatkan paradoks tersebut sebagai strategi naratif. Ia tidak menghapus sifat tegas ayam jantan, tetapi menempatkannya dalam tatanan visual yang menahan ledakan agresinya.artsandculture.google+1
Struktur Komposisi
Salah satu kekuatan karya ini terletak pada penggunaan bidang-bidang geometris di latar belakang. Bidang tersebut mengingatkan pada estetika modernis yang mengutamakan keteraturan, modularitas, dan keseimbangan warna. Di atas fondasi itu, figur ayam dan manusia ditempatkan sehingga tampil lebih hidup dan kontras. Komposisi seperti ini menunjukkan bahwa seniman tidak hanya tertarik pada representasi figuratif, tetapi juga pada relasi formal antara bidang, warna, dan bentuk.
Susunan ayam yang tersebar di beberapa titik memberi efek ritmis, hampir seperti pengulangan motif visual. Figur manusia di tengah menjadi pengikat utama yang menstabilkan seluruh komposisi. Dengan senyum yang tenang dan pose santai, sosok ini tampak sebagai mediator antara energi jantan ayam dan keteraturan latar. Dalam pembacaan formal, kehadiran manusia ini sangat penting karena mencegah karya menjadi semata-mata pengulangan tema animalistik; ia menambahkan lapisan antropologis dan psikologis.
Warna dan Atmosfer
Warna dalam karya ini memiliki peran sangat kuat. Kepala dan bulu ayam jantan hadir dalam merah, jingga, kuning, dan hitam yang kontras, membentuk kesan panas, agresif, dan vital. Sebaliknya, latar belakang didominasi oleh abu-abu, biru pucat, cokelat muda, dan krem yang lebih tenang. Kontras ini menghasilkan dialektika visual antara energi dan ketenangan, antara tubuh dan struktur, antara naluri dan kontrol.
Kesan “damai” bukan muncul dari penghilangan kontras, melainkan dari kemampuannya dikendalikan. Ini adalah kekuatan penting karya: ia tidak menenggelamkan intensitas simbol ayam, tetapi menampilkannya dalam keseimbangan formal. Dalam seni rupa, keseimbangan semacam ini menunjukkan kedisiplinan estetik, karena karya mampu memegang dua kondisi yang bertentangan tanpa kehilangan kohesi visual.
Bacaan Simbolik dan Sosial
Secara simbolik, karya ini dapat dibaca sebagai refleksi atas maskulinitas yang ditata ulang. Ayam jantan dalam banyak budaya adalah representasi kompetitif, dominan, dan bersifat demonstratif. Namun, dengan menghadirkannya dalam suasana damai dan bersama figur manusia yang ramah, karya ini seperti mengajukan pertanyaan: apakah “jagoan” selalu harus agresif? Apakah keperkasaan harus diukur lewat pertarungan? Dalam konteks ini, karya memiliki dimensi kritis yang halus, karena ia tidak menggurui, tetapi menggeser makna simbolik menuju kemungkinan yang lebih lunak.
Pembacaan ini sejalan dengan kecenderungan seni rupa kontemporer Indonesia yang kerap memakai metafora kebinatangan untuk membicarakan manusia, kuasa, atau sifat-sifat sosial tertentu. Hanya saja, jika dalam banyak karya binatang dipakai sebagai kritik keras atau satire politik, Haris Nugroho justru memilih jalur yang lebih kontemplatif dan personal. Ia menjadikan ayam bukan sebagai sindiran tajam, melainkan sebagai jembatan untuk membicarakan karakter, keseimbangan, dan harmoni.
Teknik Cat Minyak
Sebagai karya cat minyak di atas kanvas, lukisan ini menunjukkan kemampuan medium untuk menghasilkan permukaan yang halus, warna yang kaya, dan transisi yang cukup lentur. Cat minyak sangat cocok untuk figur ayam karena memungkinkan gradasi bulu, tekstur tubuh, dan detail ekspresi wajah ditampilkan secara presisi. Di sisi lain, bidang geometris latar menuntut kontrol sapuan yang rapi agar tidak mengganggu fokus utama.
Pilihan medium ini memperlihatkan kesadaran teknis yang baik. Cat minyak memberi kesan matang dan permanen, sesuai dengan karakter simbolik ayam jantan yang kokoh. Penguasaan detail pada tubuh figur juga memperkuat kesan bahwa karya dibangun dengan perhatian terhadap anatomi, permukaan, dan ritme visual. Dalam pembacaan teknis, karya ini tidak sekadar menarik karena idenya, tetapi juga karena kesungguhan pengerjaannya.

Kekuatan Karya
Kekuatan utama karya ini adalah keberhasilannya mengolah simbol yang sangat dikenal menjadi tafsir baru. Ayam jantan tidak tampil klise, melainkan dibawa ke dalam ruang visual yang cerdas dan seimbang. Judulnya yang sederhana namun ironis membuat karya mudah diingat sekaligus kaya tafsir. Selain itu, perpaduan figuratif dan geometris memberi daya tarik formal yang kuat, sehingga karya bekerja baik sebagai objek estetis maupun sebagai pernyataan konseptual.
Kekuatan lain adalah kemampuannya membangun suasana psikologis yang tidak keras. Di tengah citra ayam jago yang biasanya diasosiasikan dengan pertarungan, karya ini justru menawarkan suasana damai tanpa kehilangan karakter tegas. Ini menunjukkan kematangan dalam menyusun narasi visual: agresi tidak dihapus, tetapi didamaikan.
Catatan Kritis
Dari sisi kritik, karya ini bisa dipertanyakan pada sejauh mana hubungan antara figur manusia dan ayam masih diberi ruang naratif yang cukup. Karena komposisinya sangat padat dengan figur ayam yang dominan, sosok manusia berisiko terbaca sebagai elemen pengimbang saja, bukan pusat konseptual yang benar-benar kuat. Jika seniman ingin menajamkan dimensi naratif, relasi psikologis antara manusia dan ayam dapat diperkuat lebih jauh.
Selain itu, latar geometris meski efektif, membawa risiko visual yang cukup dekat dengan estetika dekoratif kontemporer umum. Tantangan utama bagi karya semacam ini adalah menjaga agar visualitas yang menarik tidak berhenti pada kerapian permukaan. Dalam konteks kritik seni, pertanyaan pentingnya adalah: apa yang benar-benar dinegosiasikan oleh karya ini selain keindahan bentuk? Menurut saya, jawabannya ada pada upaya mendamaikan simbol maskulin dengan suasana visual yang tenang.journal.isi-padangpanjang.ac+1
Kesimpulan
Secara keseluruhan, Jagoan Dalam Damai adalah karya yang berhasil mengolah simbol ayam jantan ke dalam pernyataan visual yang cerdas, seimbang, dan reflektif. Haris Nugroho memanfaatkan ikonografi yang akrab dalam budaya Indonesia, lalu menggesernya menuju pembacaan yang lebih lembut dan kontemplatif. Karya ini kuat karena memadukan ketegasan bentuk, kedisiplinan komposisi, dan paradoks makna yang menarik.artsandculture.google+1
Dalam horizon seni rupa kontemporer, lukisan ini penting karena menunjukkan bahwa simbol maskulinitas tidak harus selalu dihadirkan sebagai kuasa yang keras. Ia bisa dibaca ulang sebagai energi yang ditata, dikendalikan, dan didamaikan. Dengan demikian, karya ini bukan hanya menarik secara visual, tetapi juga relevan secara konseptual.***

Tentang Penulis
Lukman Zen adalah pegiat seni rupa, kurator, penulis, dan pendiri Galeri Baraya Seni Rupa Indonesia (GBSRI) yang sejak awal tahun 2000-an aktif mendorong pelestarian dan pengembangan seni budaya Indonesia, khususnya di Jawa Barat. Melalui berbagai kegiatan kuratorial, pameran, diskusi, publikasi, dan pemberdayaan komunitas, ia membangun ruang kolaborasi bagi seniman, budayawan, akademisi, dan masyarakat untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya bangsa. Selain aktif di dunia seni dan budaya, Lukman juga dikenal sebagai penulis yang mengangkat tema seni rupa, sejarah budaya, kearifan lokal, dan dinamika sosial budaya. Melalui karya-karyanya, ia berupaya menghadirkan perspektif yang edukatif, kritis, dan konstruktif, dengan keyakinan bahwa seni dan budaya merupakan fondasi penting dalam memperkuat identitas, karakter, dan peradaban masyarakat Indonesia.




