3B (Berkarya, Berpameran dan Berwisata)

Oleh : Piyan Sopian, S.Pd.,M.Pd.

Kehadiran karya seni sebagai salah satu produk kreatif, pada awalnya tidak dapat dipisahkan dari proses pemenuhan “kebutuhan estetik” seseorang, dalam mencari, memilih, menemukan dan mentransformasikan ide dan gagasannya ke dalam sebuah karya. Di dalamnya tersirat adanya keinginan, usaha dan kerja yang dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan. Karenanya dalam proses ini, pencarian ide dan gagasan yang diharapkan, tentunya tidak akan pernah berhenti pada salah satu aspek kehidupan saja. Setiap orang akan terus menggali, menggarap dan merangkum banyak hal yang berkembang dalam kehidupannya, termasuk di dalamnya menghimpun berbagai macam momen estetik yang bertebaran dalam pikiran dan imajinasinya selama ini.

Pertemuan pembahasan di Gedung Kesenian Tasikmalaya bersama : Ramdani,  Zen, Irma seundok, Afrudin, Trisna, Piyan

Selain itu, kehadiran karya seni, tidak dapat dipisahkan dari kreativitas dan “kemahiran” seseorang dalam merespon sesuatu yang berada disekitarnya. Dalam hal ini, para seniman telah mengembangkan interpretasi dan pandangannya dalam mengeksplorasi dan mengaplikasi materi serta gagasan seni ke dalam sebuah karya dengan pendekatan yang sifatnya individualistik dengan gaya dan karakter yang khas. Para seniman memiliki kemampuan untuk mentransformasikan berbagai realitas yang terjadi ke dalam karya dengan persfektif dan kreativitas masing-masing.

Kemampuan seniman dalam mentransformasikan ide dan gagasannya tersebut, pada akhirnya akan mendorong seseorang untuk menghasilkan karya yang berguna bagi pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Oleh karenanya, kehadiran karya seni tidak hanya berfungsi sebagai media ekspresi seseorang saja, tetapi lebih dari itu, kehadirannya menjadi bagian tak terpisahkan dari “hidup dan kehidupan” masyarakat secara keseluruhan.

Berpijak dari pandangan di atas, Galeri Baraya Seni Rupa Indonesia (GBSRI) yang di dalamnya menghimpun para seniman (baca:perupa) dari seluruh wilayah Indonesia, menyadari bahwa untuk menghasilkan karya yang “baik” (dapat memenuhi kebutuhan hidup manusia), harus ditunjang dengan usaha/kerja yang maksimal. Dalam hal ini para seniman tentunya harus secara terus menerus melakukan eksplorasi ide dan gagasan seni yang orisinil, objektif, unik, dan baru, sehingga dapat menghasilkan karya-karya yang lebih inovatif dan kreatif. Selain itu, dalam rangka meningkatkan kualitas karyannya, para seniman juga harus terlibat dan berinteraksi langsung dengan masyarakat sekitar. Keterlibatan para seniman dalam kehidupan masyarakat dan pandangan mereka terhadap fenomena yang terjadi, pada pada akhirnya dihrapkan dapat meningkatkan semangat kebersamaan, rasa persaudaraan atau solidaritas terhadap berbagai hal yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Salah satu kegiatan/aktivitas yang dilakukan oleh Galeri Baraya Seni Rupa Indonesia

(GBSRI) dalam rangka memenuhi harapan di atas, yaitu melalui kegiatan “Pameran Wisata Seni Rupa Jilid 1” yang akan digelar pada tanggal 20-21 Juli 2019 di Papandayan Camping Ground Garut. Pameran yang diharapkan dapat meningkatkan silaturahmi dan komunikasi diantara seniman, juga sebagai media untuk mengekspresikan potensi dan kreativitas seniman dalam bidang seni rupa tersebut, juga rencananya akan terus berlanjut dengan edisi-edisi selanjutnnya.

Berkaitan dengan kegiatan di atas, Lukman Zen salah satu pelopor berdirinya Galeri Baraya Seni Rupa Indonesia (GBSRI), menyebutkan bahwa konsep penyelenggaraan pameran kali ini, yaitu mengeksplorasi bidang pariwisata sebagai sumber inspiratif seniman dalam berkarya. Dalam hal ini, para peserta diberi kesempatan untuk menikmati pesona alam/pesona wisata yang ada, kemudian mereka dengan kreativitasnya dapat memilih dan menentukan media ungkap, serta pilihan kreatifnya dalam berkarya. Termasuk di dalamnya cara, strategi dan pendekatan yang dilakukan untuk menghasilkan karya-karya yang dihasilkannya. Selain itu, melalui kegiatan melukis bersama di lokasi pameran/objek wisata yang dikunjungi, pada akhirnya para seniman akan menemukan dan mendokumentasikan objek yang dipilihnya itu lewat karya yang dihasilkan, kemudian karya yang dihasilkannya itu, akan menjadi “produk kreatif” yang akan menjadi sejarah bagi individu-individu pembuatnya.

Konsep ini tentunya sejalan dengan program pemerintah saat ini, dimana bidang seni budaya dan pariwisata menjadi salah satu program prioritas pembangunan yang saat ini sedang gencar dilaksanakan di seluruh daerah di Indonesia. Dalam wilayah ini, seni budaya sebagai wujud kreativitas seniman, dalam mentransformasikan ide dan gagasan kreatifnya, yang mengisyaratkan adanya pewarisan norma-norma, kaidah, adat istiadat dan benda-benda harta kultural, serta pariwisata sebagai salah satu sektor penting dalam mensukseskan pembangunan nasional, pada hakekatnya merupakan dua hal yang berkaitan erat. Dinyatakan demikian, karena seni budaya dan pariwisata, selalu hadir dan saling melengkapi dalam dinamika kehidupan suatu bangsa. Oleh karenanya, kedua hal tersebut memiliki dan membutuhkan proses dalam menjaga, melindungi, mempertahankan keberadaannya agar tetap “hidup” dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat secara keseluruhan.

Pariwisata tanpa kehadiran seni budaya akan menjadi ‘sunyi’ dan jauh dari nilai-nilai estetis di dalamnya.  Pada sisi yang lain, kehadiran seni budaya sebagai salah satu aset untuk meningkatkan kualitas pembangunan nasional, memerlukan ruang dan media untuk mengembangkannya lewat kegiatan pariwisata. Keduanya, baik seni budaya maupun pariwisata, memiliki peran dan fungsi yang sama pentingnya dalam kehidupan masyarakat. Karenanya, kedua bidang tersebut, tidak dapat dibicarakan secara arbiter. Ia harus dibicarakan dalam bingkai yang melibatkan berbagai konteks yang ikut mengkondisikannya, seperti aspek sosial, ekonomi, politik dan yang lainnya. Dalam bingkai semacam ini, keterlibatan seluruh elemen masyarakat sangat dibutuhkan dalam membina dan mengembangkan bidang seni budaya dan pariwisata menjadi lebih baik dan berkembang.***