Seni Rupa Kontemporer Indonesia

    Seni Kontemporer adalah perkembangan seni yang terpengaruh modernisasi dan digunakan sebagai istilah umum sejak istilah “Contemporary Art” berkembang di Barat sebagai produk seni sejak perang dunia II. Istilah ini berkembang di Indonesia seiring makin beragamnya teknik dan medium yang digunakan untuk memproduksi suatu karya, juga karena telah terjadi suatu percampuran antara aliran-aliran yang berbeda. Metode artistik dan presentasi karya yang tidak terikat lagi oleh standar tertentu.

    Dalam bidang Seni Rupa Kontemporer, para seniman cenderung melakukan simbolisasi makna tertentu melalui karakter-karakter unik. Berikut adalah contoh karya-karya seni rupa kontemporer oleh seniman-seniman Indonesia dengan berbagai ekspresi penyampaian pesan dan makna.

      Kik Wahyu Peshang mengejutkan publik dengan karyanya yang bertajuk “Filospisang” (300x60x80 cm, mixed media, oil on canvas 3 dimention, 2010). Sebuah karya berupa instalasi pisang yang cukup besar, yang dibuat seperti perahu, dengan bagian atasnya yang berongga memanjang, seolah-olah bisa dimasuki dan diduduki siapa saja. Yang lainnya adalah karya-karya berupa lukisan, tentu saja semuanya masih berbasis pada ide dasar visual pisang. Yang menarik, Kik menghadirkan kembali pisang-pisang tersebut dengan transformasi metafora baru. Misalnya, ada seri lukisan tentang pisang yang setengah terbuka kulitnya, di dalamnya ternyata bukan berisi pisang itu sendiri, namun ada yang berisi sosis, tabung gas, kondom, dan lainnya.

Gambar: Filosopisang, sebuah karya instalasi kreasi Kik Wahyu Peshang. Satu di antara karya-karyanya tengah digelar di Bentara Budaya Yogyakarta. (foto: satmoko)

       Metafora simbol kepala kucing yang ada pada lukisan berjudul “Antara Aku dan Frida” tersebut bisa juga mewakili sifat wanita yang manja, karena memang kucing mempunyai sifat dasar manja. Tas yang ditenteng bergambar “Frida Kahlo” dimana dia sering berstatement kurang lebih seperti ini, “Mengapa aku selalu melukis potret diri? Karena hanya aku yang paling mengerti diriku sendiri,” kata tersebut mencerminkan visual kahlo dalam karya ini yang sengaja diambil untuk menyimbolkan kemandirian seorang wanita. Lalu simbol rambut berwarna pink adalah simbol kekinian. Secara kajian metafora, karya ini ingin menggambarkan sebuah sifat wanita yang kekinian, yang sadar akan eksistensinya dalam bidang seni, sosial dan politik.

Gambar: Lukisan karya Nahyu. (foto: M. Rahman Athian)

Maria Indriasari dalam karyanya yang bertajuk “Klentang Klenting Klentong” (mix media, 2010) ia menyodorkan refleksi perihal dunia batin perempuan Jawa yang dulu termitoskan “cuma” bergelut dengan urusan domestik rumah tangga. Melalui ketiga karya serupa boneka yang terbuat dari bahan dasar kain tersebut, upaya Maria dalam merefleksikan dunia batin perempuan Jawa adalah melalui ikon peralatan dapur sebagai kepala boneka. Ada visualisasi tentang panci dan ceret, contohnya.

Gambar: Karya seni, “Klentang Klenting Klentong” kreasi Maria Indriasari (foto: satmoko)

        Yang sedikit unik adalah pada lukisan karya Nancy Imelda Nahuway yang bertajuk “Not Life” (acylic on canvas, 37×67 cm, 15 panel, 2010). Lukisan itu merupakan sambungan panel-panel kanvas sejumlah 15 yang memuat satu gagasan visual perihal seseorang berkepala terbalik sedang berjalan di atas tuts piano. Tampak pula paparan visual jarum jam yang menunjuk angka tertentu. Sepertinya memaknai seseorang yang menghabiskan waktunya hanya untuk hanyut mengenang masa lalu, jadi tidak pernah hidup di saat ini selayaknya manusia normal yang menghadapkan wajahnya pada yang dikerjakan saat ini dan masa depan.

Gambar: Salah satu karya milik Nancy Imelda Nahuway, “Not Life” dalam pameran di Ruang Seni Ars Longa. (satmoko)

       Tatang Ramadhan Bouqie, si perupa, bertutur, ” Saya selalu tertarik dengan faktor manusia dengan segala aspeknya. Peran, tingkat, perilaku, strata. Atas sampai bawah. Namun, waktu dan langkah saya tentu saja terbatas. Dan, televisi telah membantu memperpanjang tatap dan langkah saya. Televisi menyuguhkan segala aspek manusia dengan tuntas dan sempurna—terkadang—rekayasa. Ada rasa takjub dan getir pada diri saya. Di televisi saya melihat laku — peristiwa manusia menjadi baur: Fiksi dan Non-Fiksi, Real dan Un-Real. Ada kekacauan di situ. Ada yang bilang itu absurd. Tetapi saya lebih suka bilang itu melulu mistis. Saya berpikir baik sekali kalau saya dapat banyak “mencatat”nya. Saya sangat bergairah. Dalam kegelisahan yang nyaris permanen. Saya coba telusuri saluran-saluran lain. Saya menemukan jumlah 99. Semua atas nama Tuhan.”

Gambar: Lukisan “Teater dari Saluran 99” yang berukuran 2 x 12 meter (empat panel) karya Tatang Ramadhan Bouqie dengan latar depan karya instalasi “Reformasi Racing Team” kreasi Tommy Tanggara. (foto: kuss)
 
 

Sumber:
http://indonesiaartnews.or.id
http://id.wikipedia.org/wiki/Seni_kontemporer