Seni dan Ketajaman Intuisi

karya : lilis kartika

Seni dan keindahan meru­pakan mata rantai saling me­ngisi dalam ak­ti­vitas kreati­vitas dalam berkarya cipta. Herbert Read menambah­kan: seni ada­lah ekspresi. Eks­ponen aktivitas ini adalah ma­nusia. Basis aktivitas ar­tistik­nya ialah pengamatan terha­dap kualitas material. Penyu­sunan aktivitas tersebut men­ja­di bentuk serta pola yang me­nyenangkan. Susunan per­­sepsi tersebut dalam pembuat­an­nya dihubungkan dengan emo­si atau perasaan yang dira­sakan sebelumnya.

Hakekat nilai dalam seni akan ter­ungkap dalam kekua­tan karya itu. Mampu membe­ri-membangkitkan pengalam­an spiritual batin, terjadi­nya ko­­munikasi yang merupakan  ma­nif­estasi dalam mena­nam­kan rasa yang dibangun intuisi melalui ide- gagasan . 

Dalam intensitas ekspresi men­jabarkan simbolis. Idiom dan ima­ji­nasi sebagai bentuk ung­kapan wujud in­terprestasi karena batin dari kon­tem­plasi penghayatan, pemaknaan dan penjelajahan nilai-nilai spiri­tual.

Jakob Sumardjo, menam­bah­kan, pan­dangan estetika dalam system re­ligi agama asli (sebagian masih baik ke­ada­an­nya dan sebagian telah ru­sak be­rat). Dikenal pokok-po­kok yang me­reka percayai, sys­tem upacara atau iba­dah yang mereka lakukan. Dasar mi­­tologi yang mereka perca­yai se­bagai kisah asal usul se­mesta.

Tatanan organisasi keper­ca­yaan me­reka, etika aga­ma me­reka untuk me­ma­su­ki da­lam keselarasan dan ke­ti­­dakselarasan dengan kos­mos­nya. Itu semua syarat mut­lak untuk memahami aneka pro­duk budaya mereka. Kese­nian bagi masyarakat semacam ini bukan sekadar kenyataan ke­indahan. Bukan sekadar per­soalan estetika, tetapi teruta­ma persoalan jalan kese­la­ran dengan kosmos. Pengala­man es­tetik sekaligus merupakan pe­nga­la­man religius.

Target kesenian adalah pe­ngala­man religius ini. Penga­laman estetik adalah suatu eks­tase dengan kosmos. Pele­buran diri dalam seni adalah pe­le­buran dalam pengalaman mistik.

Kehadiran seni yang dalam  kehidu­pan manusia mampu ber­adaptasi de­ngan lingkung­an kosmologi sebagai se­buah ika­tan rasa atas keseimbangan da­lam hidup ini. Seni sebagai bahasa nilai-nilai menyajikan nilai- nilai untuk langsung di­alami oleh seluruh un­sur dan ba­gian masyarakat.

Keberadaan seni dengan hi­dup dan kehidupan manusia de­mikian dekat dan eratnya. Meli­puti sensitifitas yang merupa­kan pengalaman kepekaan ter­hadap setiap rangsangan yang da­tang dari luar. Sehingga mampu mem­per­kaya pengala­m­an jiwa. Fluency yaitu kelan­caran dalam menyesuaikan ide yang akan diungkapkan. Fleksi­belitas merupakn kemampuan un­tuk menga­dap­tasi suasana. Ori­sinalitas, kemam­puan untuk mengemukakan solusi yang pri­badi yang bersifat personal  da­lam kerja kreativitas.

Didalam kompleksitas pera­daban masa kini, manusia  se­ring kehilangan arah pandangan tujuannya. Untuk itu, seni de­ng­an kandungan nilai yang di­bawanya mengembalikan kesa­daran manusia tentang makna dan tujuan hidupnya (Agus Sachri).

Susanne K Langer, meru­mus­­kan seni sebagai penciptaan bentuk yang me­nyimbulkan pe­rasaan manusia. Seni dapat di­se­but sebagai sebuah sym­bol. Seni menenuhi fungsi ter­tentu, yakni seni mewujudkan, mem­ben­tuk suatu perasaan menjadi wujud. Dalam karya seni yang ba­ik, fungsi ini harus benar-be­nar dijalankan.

Jelaslah kehadiran seni  me­miliki elemen rasa yang disam­paikan dengan bahasa symbol sebagai ungkapan. Penelaahan pemaknaan pada hakekat­nya me­rupakan upaya mengab­strak­sikan dan imajinasi dari ber­bagai realitas dengan pende­katan symbol.

Penjelajahan seni merupa­kan pen­je­jahan berekspresi se­bagai eksplotasi dari po­tensi. Da­­lam sentuhan personal mem­beri getaran rasa yang menem­bus ke­dalaman kreativitas. Memiliki konteks da­lam waca­na yang mewu­jud­kan ma­ni­fes­tasi sebagai narasi ung­kapan  ra­sa.

Penciptaan karya seni memi­liki di­mensi penghayatan. Me­ru­pakan trans­formasi dari sebu­ah ungkapan pemak­naan. Mem­­bentuk kesadaran sebagai in­terprestasi nilai ekspresi dari ke­hi­dupan manusia.

Seni sebagai produk pemiki­ran kre­atif. Dalam kehidupan manu­sia pada pro­ses ungkapan menunjukkan kekua­tan pemak­naan. Kreativitas merupa­kan pe­nggalian ilhan dari lubuk ke­hidupan spiritual manusia. Memi­liki ke­setian pada intu­isi dalam me­nge­nali suk­ma. Menjadi pendorong da­lam se­ma­ngat  dan proses pencipta­an karya seni.

Lebih lanjut Popo Iskan­dar, me­ne­gaskan: Seni  luhur se­lamanya menuju ke arah in­telek maupun rasa. Seperti juga sebuah simponi yang ti­dak hanya da­pat dinikmati dari harmoni dan su­su­nannya. Juga dari bentuk dan per­kem­­bangannya. Penik­ma­tan inte­letual ini merupakan bentuk ke­puasan pa­ling sempurna yang dapat di­capai maunia. Karena itu, seni me­nuju arah satu kesatuan, merupakan tu­­lang pung­gung struktur dan inti suatu bentuk. Disebut pu­la, Seni sebenarnya adalah ka­tarsisi, pe­mur­nian. Emosi jangan meluap-luap yang se­nantiasa mencari jalan untuk pencurahan, mendapat salu­ran yang paling luhur daam bentuk karya seni.

Seni sebagai produk rasa kein­da­han, memiliki pemak­naan dalam ung­kapan kepe­ka­an rasa keindahan. Me­ru­pa­kan rasa universal dari in­ter­pres­tasi ungkapannya. Ti­dak terbatas pada idiom  atau symbol tertentu tapi kesa­da­r­an, kepekaan  sebagai imple­metasi rasa keindahan (esteti­ka).

Pada kenyataannya seni me­rupa­kan keseimbangan an­tara pikiran dan cita-cita. Antara intelektual dan nilai-ni­lai ungkapan jiwa. Mem­ben­tuk manusia menjadi kre­atif dan penuh inisiatif serta pengembangan daya imajina­si-daya fantasi dalam menge­muakan ide- gagasan dalam ber­karaya seni.

Seni sebagai refleksi  kehi­dupan ma­nusia. Mampu mem­­beri reaksi pe­maknaan  dalam melahirkan  ide dan ga­­ga­san. Mempunyai integri­tas in­telektual yang dibangun dalam wu­judkan kreativitas.

Achiat K. Miharja, me­nambahkan: Seni adalah ke­giatan rohani manusia. Refleksi realitet (kenyataan)  da­lam sebuah karya yang ber­kat bentuk dan isinya. Mem­pu­­nyai daya untuk membang­kit­kan pengalaman tertentu da­­lam alam rohani sipeneri­ma­­nya.

Seni merupakan subtansi pengala­man, hadir dari proses kreatif dalam ke­sadaran. Me­mi­likimketerkaitan si­kap dan kondisi masyarakat pendu­kung serta memiliki kepeduli­an rasa, ke­bersamaan.

Aspek kreativitas memi­liki kesa­da­ran dalalm memberi kontribusi  un­tuk menyatu da­lam realita sebagai satu wila­yah totalitas kehidupan ma­nu­­sia.

Penyatuan kedalaman rasa pada ha­kekatnya sebagai pe­maknaan dalam pe­najaman in­tuisi yang dibangun melalui em­pati. Rasa kepedulian dan sikap menghargai atas bentuk ke­ra­ga­man dan keperbedaan. Penajaman rasa, diasah de­ngan kesadaran sen­si­tivitas atas kepekaan terhadap ling­ku­ngan sebagai sublime pen­jabaran dari proses empati.

Pendidikan hakekatanya sebagai peningkatan kecerda­san dalam me­ning­katkan kua­litas kehidupan yang berorien­tasi pada kemampuan rasio dalam penalaran ilmu penge­tahuan. Seni refleksi kehidu­pan mansia dalam pemaknaan rasa yang diaplikasikan mela­lui media ungkapan sebagai ak­tivitas kegiatan rohani ma­nusia.

karya : anne lesar

Seni sebagai kebutuhan hi­dup ma­nusia, secara sadar atau tidak erat de­ngan kehidupan seni sebagai ke­butuhan indivi­du. Menyangkut  eks­presi, ke­bu­tuhan-kebutuhan sosial un­tuk kepentingan komunikasi, pe­ra­yaan– upacara  ritual. Ke­butuhan fi­sik menyangkut ben­da, barang, ba­ngunan yang bermanfaat.

Dalam manifestasinaa dija­barkan dalam wujud bentuk sim­bolik dan imajinasi. Guna menawarkan siratan ide dan ga­gasan serta penajaman rasa – intuisi. Bermuara pada ke­pedulian dan kepekaan dalam lingkungan dan wawasan ke­hi­dupan.

Seni merupakan kristalisasi  dalam pro­ses kreativitas yang berorientasi pada nilai rasa. Ke­tajaman intuisi, ima­n­jinasi yang berintraktif  dalam batin. Keberadaan karya seni meli­batkan berbagai faktor sebagai intraksi ter­hadap aspek kondi­si lingkungan. Me­ngarah pada kepekaan rasa dalam kontem­pla­si yang manunggal rasa ter­hadap peristiwa. Kejadian  aktual dan kontektual dapat di­jadikan sumber inspirasi dalam penciptaan karya seni.

Perubahan psiko cultural ma­­syarakat yang menimbul­kan pergese­ran nilai, pola pi­kir, perilaku. Diben­tengi de­ngan kekuatan environment (se­bagai kekua­tan yang khas) dalam mengembangkan pra­digma-pradigma baru. Ide­alisme dari perkembangan ke­hidupan dengan penyegaran baru. Seni dan kehidupan ma­nusia meru­pa­kan bentuk vita­lisasai konseptual yang memi­liki potensi dan sikap dalam nilai keuniversalannya.

Membentuk spirit bagi pembentuk, karatekristik ma­nusia dalam menga­sah kepe­kaan rasa, intuisi, empati  dan ke­manusian (kini manusia  mu­lai ke­hilangan nilai rasa). Menambah rasa ke­bangsaan, kepedulian terhadap ni­lai-nilai seni budaya sebagai kekuatan dan lingkungan dimana ma­sya­­rakat  itu  ada  dan  berada. Bahkan setiap manifestasi seni se­nantiasa berada dalam pe­­rubahan, pe­rubahan yang menuju kepada ke­te­ra­turan baru. ***

Sumber : Amran Ekoprawoto https://analisadaily.com