Mitologi Ekologis dalam Jaga Bumi

Loading

“Mitologi Ekologis dalam Jaga Bumi #2: Alegori Bumi sebagai Tubuh Hidup”

Pelukis : Tono Hartono
Judul : jaga Bumi #2
Ukuran : 117×117 cm
Media : Cat Akrilik di Kanvas

Ulasan Umum

Jaga Bumi #2 menampilkan lanskap imajiner yang padat, ornamental, dan sarat simbol ekologi. Secara visual, karya ini tidak bekerja sebagai representasi alam yang naturalistis, melainkan sebagai konstruksi puitik tentang bumi yang hidup, rapuh, dan perlu dijaga. Komposisi yang penuh, warna-warna berlapis, serta figur pohon-giraffe yang dominan menjadikan karya ini terasa seperti mitologi visual tentang relasi manusia, alam, dan keberlanjutan.

Karya ini memancarkan semangat naratif yang kuat: alam bukan sekadar latar, tetapi subjek utama. Dengan pendekatan yang dekoratif sekaligus ekspresif, Tono Hartono membangun dunia visual yang mengundang penonton untuk membaca lingkungan sebagai ruang spiritual, biologis, dan moral.

Pembacaan Formal

Dari sisi struktur komposisi, karya ini disusun secara sentral dengan figur utama di tengah bidang gambar. Pohon tinggi yang sekaligus menyerupai tubuh hewan menciptakan sumbu vertikal yang kokoh, sementara elemen-elemen lanskap di sekelilingnya membentuk ritme horizontal dan diagonal. Pertemuan dua arah ini menghasilkan keseimbangan antara stabilitas dan dinamika.

Bidang gambar dipenuhi secara nyaris menyeluruh, sehingga menimbulkan kesan kesemrawutan yang disengaja. Tidak ada ruang kosong yang benar-benar dominan; sebaliknya, permukaan kanvas menjadi medan energi visual yang padat. Pilihan ini memperkuat gagasan bahwa bumi adalah ruang yang hidup, penuh interaksi, dan tidak boleh dibaca secara parsial.

Bahasa Rupa

Secara garap visual, karya ini menonjol melalui permainan garis, tekstur, dan repetisi motif. Garis-garis berliku pada langit dan kontur lanskap menciptakan getaran optis yang memberi kesan gerak kosmis. Tekstur pada batang, permukaan bukit, dan vegetasi disusun dengan detail ornamental yang memperkaya pengalaman visual sekaligus menegaskan watak tangan pelukis yang aktif.

Palet warna karya ini sangat ekspresif: biru gelap pada langit memberi kedalaman dan nuansa malam atau senja, sementara hijau, ungu, merah, jingga, dan kuning muncul sebagai aksen kehidupan yang subur. Kontras warna panas dan dingin memperkuat dramatisasi visual. Warna bukan hanya elemen estetis, melainkan juga alat penegasan simbolik tentang keberagaman hayati dan vitalitas alam.

 

 

Makna dan Simbol

Motif utama berupa pohon yang berwujud tubuh hewan dapat dibaca sebagai alegori tentang keterhubungan semua makhluk hidup. Bentuk tersebut menyatukan flora dan fauna dalam satu entitas visual, seolah menegaskan bahwa alam tidak terbagi secara kaku, melainkan saling menopang. Ini memberi dimensi ekofilosofis yang kuat: merusak satu unsur berarti mengguncang keseluruhan sistem.

Judul Jaga Bumi juga memberi arah pembacaan yang jelas. Karya ini berposisi sebagai seruan etis, bukan semata-mata objek kontemplasi estetis. Dalam konteks ini, gambar menjadi medium advokasi: ia mengajak penonton untuk menyadari bahwa bumi bukan sumber daya tak terbatas, melainkan organisme simbolik yang harus dirawat.

Nilai Estetika dan Gagasan

Kekuatan utama karya ini terletak pada keberhasilannya menggabungkan dekorativitas dan kesadaran isu. Banyak karya bertema lingkungan jatuh pada ilustrasi yang terlalu literal atau pesan moral yang terlalu langsung; namun di sini, pesan ekologis dibungkus dalam bahasa visual yang kaya, puitik, dan imajinatif. Dengan demikian, karya tidak terasa didaktis secara kasar, melainkan mengajak penonton merenung lewat keindahan.

Dari sudut pandang seni rupa, karya ini menunjukkan kecenderungan pada seni imajinatif-simbolik dengan intensitas ornamen yang tinggi. Pendekatan semacam ini memiliki kedekatan dengan tradisi seni naif, surealis, dan dekoratif, tetapi tetap memiliki identitas personal yang kuat. Tono Hartono tampak tidak mengejar ilusi ruang akademik, melainkan membangun dunia visual yang otonom dan penuh sugesti.

Kritik Seni

Secara kritis, karya ini sangat kuat dalam atmosfer dan simbolisme, tetapi justru karena kepadatannya, beberapa bagian berpotensi menimbulkan kelelahan visual. Keterisian bidang yang sangat tinggi membuat pusat perhatian memang jelas, namun pembacaan detail bisa menjadi berat jika tidak ditopang oleh hierarki visual yang lebih tegas. Dalam arti tertentu, karya ini lebih menonjol sebagai pengalaman total ketimbang sebagai komposisi dengan jeda optis yang terukur.

Selain itu, kekuatan dekoratif yang besar dapat membuat karya ini dibaca sebagai indah terlebih dahulu, baru kritis kemudian. Namun hal ini bukan kelemahan mutlak; justru di situlah strateginya. Karya ini memanfaatkan daya tarik estetik untuk membuka pintu bagi kesadaran ekologis, sehingga keindahan berfungsi sebagai medium etis.

Kesimpulan Kritis

Jaga Bumi #2 adalah karya yang berhasil menggabungkan imajinasi visual, kepadatan ornamental, dan pesan ekologis dalam satu kesatuan yang meyakinkan. Ia tidak hanya menampilkan lanskap, tetapi membangun metafora tentang bumi sebagai tubuh hidup yang saling terkait. Dari segi gagasan, karya ini penting; dari segi bahasa rupa, ia berani, ekspresif, dan kaya lapis makna.

Jika diringkas dalam satu kalimat, karya ini adalah seruan ekologis yang disampaikan melalui bahasa visual yang puitik, padat, dan simbolik. Ia mengajak penonton bukan hanya melihat alam, tetapi merasakan tanggung jawab terhadapnya.***

 

Tentang Penulis

Lukman Zen adalah pegiat seni rupa, kurator, penulis, dan pendiri Galeri Baraya Seni Rupa Indonesia (GBSRI) yang sejak awal tahun 2000-an aktif mendorong pelestarian dan pengembangan seni budaya Indonesia, khususnya di Jawa Barat. Melalui berbagai kegiatan kuratorial, pameran, diskusi, publikasi, dan pemberdayaan komunitas, ia membangun ruang kolaborasi bagi seniman, budayawan, akademisi, dan masyarakat untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya bangsa. Selain aktif di dunia seni dan budaya, Lukman juga dikenal sebagai penulis yang mengangkat tema seni rupa, sejarah budaya, kearifan lokal, dan dinamika sosial budaya. Melalui karya-karyanya, ia berupaya menghadirkan perspektif yang edukatif, kritis, dan konstruktif, dengan keyakinan bahwa seni dan budaya merupakan fondasi penting dalam memperkuat identitas, karakter, dan peradaban masyarakat Indonesia.