celoteh-celoteh diam

Oleh : Piyan Sopian, S.Pd.,M.Pd.

Lukisan Karya : Deskamtoro Dwi Utomo

Awal Januari 2019, hujan deras masih setia menemaniku, disaat kanvas, cat dan kuas belum menunjukan aksinya. Saat itu, kanvas masih putih tak tersentuh apapun. Sedangkan cat, belum mau menampakan warnanya. Sementara itu, kuas yang selalu setia menemani keduanya, seperti lupa pada tugas dan kewajibannya. Ya… saat itu ketiganya seakan-akan asik dengan dunianya sendiri. “ Aku heran, hari ini inspirasiku seakan hilang dari pikiranku. Hujan hari ini seperti ingin membuat otak dan pikiranku beku. Hujan seakan-akan menyuruhku untuk diam dan membisu”. Begitu suara batinku berkata. Saat ini yang bisa kulakukan hanya menunggu hingga hujan reda. Rencananya hari ini aku akan ‘hunting objek’ untuk lukisan baruku. Saat aku melamun, istriku datang menghampiri. “Dari tadi mamah lihat, ayah melamun terus, …lagi ada masalah yah…?” istriku berusaha untuk mencari tau kondisiku. “tidak ada apa-apa kok mah, ayah hanya bingung, hari ini ayah sulit mendapatkan ide untuk melukis. Mungkin karena hujan kali ya…”. Aku berusaha  menanggapi pertanyaan istriku. “lho…kok hujan yang disalahkan”. Istriku menimpali. “Ayah harusnya bersyukur, hari ini hujan turun lagi. Jadi ayah ada di rumah. Mamah senang kok kita bisa berduaan seperti ini”. Istriku mencoba bersikap manja padaku. “mamah bisa aja. Memangnya anak-anak kemana?”. Aku berusaha untuk menanyakan kedua anakku yang biasanya selalu ada di sisi ibunya. “anak-anak ada di kamar, sedang main games.” Jawab istriku. “ Dari pada melamun terus, lebih baik ayah minum kopi dulu, biar fresh…”.istriku mencoba menawariku segelas kopi.

Hujan yang sedari pagi turun, belum menampakan tanda-tanda akan berhenti. Bahkan menjelang siang turunnya makin deras. Tak mengherankan jika hari itu udara dingin terasa makin menggigit dan hujan seperti ingin membasuh tubuhku. Untuk mengurangi rasa dingin, secangkir kopi hangat yang disediakan istriku, habis kuminum saat itu juga. Saat itu, sedikit-sedikit tubuhku terasa hangat kembali.

Blug…sebutir kelapa tua jatuh ke tanah. Tertiup angin atau mungkin terkena hujan. Tiba-tiba aku teringat sahabat lamaku ketika kuliah di Jogja. Beberapa nama diantaranya berjasa besar dalam kehidupanku, terutama keberhasilanku dalam menyelesaikan kuliah di Jurusan Seni Rupa UNY. Diantaranya Wahyono, yang saat ini jadi dosen di salah satu perguruan tinggi terkenal di Kota Padang. Sargiono yang saat ini menjadi Guru seni Budaya di salah satu SMAN terkemuka di Jogjakarta dan Soleh Harjanto yang saat ini kabarnya sukses menjadi pengusaha periklanan di Jakarta. Selain ketiga nama tadi, nama lain yang selalu mendukungku, sejak kuliah hingga saat ini yaitu Hayatul Hakim, Hikmat Hadiat, Mimin Suminar, dan Yuyum. Saat ini Alhamdulillah semuanya telah bekerja menjadi guru seni budaya SMA di Kabupaten dan Kota Tasikmalaya.

“lho kok masih melamun? Ada apa lagi sih yah?”. Istriku kembali bertanya cemas. “ Tidak ada apa-apa kok mah…, ayah hanya ingat teman-teman ayah dulu sewaktu di Jogja. Biasanya kalo hujan seperti ini, kami suka makan jagung bakar plus teh manis hangat”. Aku berusaha menjawab pertanyaan istriku. “ oh, ya mah…bulan Juli tahun ini ayah mau pameran lagi. Kebetulan teman-teman seniman Garut yang aktif di Galeri Budaya Seni Rupa Indonesia (GBSRI), mengundang ayah untuk pameran di Papandayan Camping Ground Garut.

Sepertinya asik ya mah”. Aku berusaha untuk memberitahu istriku dan berharap dia mengijinkannya. “kalo mamah sih terserah ayah saja. Selama kegiatannya positif, mamah akan mendukung ayah”. Istriku memberi jawaban yang melegakan hatiku. Karena bagiku ijin dari istri sangat diperlukan untuk mendukung karir dan pekerjaan ku selama ini.

Blug…sebutir kelapa tua jatuh lagi, seakan-akan mengingatkanku untuk tidak terlena dengan kenangan masa lalu. Disaat bersamaan, kedua anakku Bimo Alviana Sopian dan Dimas Sundayana Sopian, menghampiri dan merengek meminta kanvas, cat dan kuas yang dari tadi dibiarkan berserakan di sampingku. Tanpa menunggu persetujuanku, keduanya langsung beraksi mengekspresikan keinginannya lewat kanvas tersebut. Tak lama berselang sejumlah objek, dengan beragam gaya dan warna berhasil dibuat oleh keduanya. Saat itu aku hanya tersenyum, melihat tingkah keduanya. Tanpa ku sadari, kedua anakku sebenarnya sedang berusaha untuk mengekspresikan ide dan gagasannya lewat karya. Atau mungkin keduanya sedang berusaha untuk mengkomunikasikan sesuatu lewat karya itu. Sesaat aku berpikir dan teringat beberapa karya yang dihasilkan teman dan guruku di komunitas Pelukis Pinggiran, KSRT dan Silva. Terutama lukisan yang dihasilkan oleh Bapak Drs. Aten Warus, M.Pd., Bapak Drs. Djoni Hartono, Bapak Drs. Herman PG, Bapak Drs. Jajang Purwanata, Bapak Drs.Yusa Widiana  dan Bapak Luky Lukita. Secara visual, lukisan mereka, menunjukan adanya keragaman medium, teknik, ide dan karakter khas dalam berkarya. Mereka mampu mengaktualisasikan kreativitasnya dengan gayanya masing-masing. Dalam hal ini, bidang kehidupan individual mereka, menjadi kekuatan dan sumber inspiratif kreatif yang tak habis digali. Melihat, merenungi dan menginterpretasikan karya mereka, seolah-olah karya tersebut sedang berbicara, bercerita, berteriak, tersenyum, mencemooh dan sebagainya. Saat itu aku sadar bahwa lukisan yang kulihat itu, seperti hidup, seperti cerminan diriku, cerminan diri orang lain, atau jangan-jangan lukisan itu tidak hanya cermin, melainkan realitas hidup dan kehidupan pembuatnya.

Blug…blug… kali ini dua buah kelapa tua kembali jatuh ke tanah. Untuk sesaat aku berusaha tenang dan mengamati situasi yang terjadi saat itu. Dari balik jendela, samar-samar aku melihat seseorang berlari dan mengambil buah kelapa yang jatuh tadi. Ternyata orang itu yang empunya kelapa tersebut. Orang itu memberanikan diri mengambil kelapa yang jatuh, meskipun saat itu hujan turun dengan derasnya. Dalam hatiku muncul pertanyaan aneh; mengapa orang itu nekad berbuat seperti itu?. Jawabannya pasti beragam tergantung sudut pandang masing-masing. Demikian halnya dengan karya seni lukis yang dihasilkan oleh para seniman saat ini. Arah dan motivasi berkarya mereka akan sulit ditebak. Masing-masing seniman memiliki caranya sendiri dalam berkarya. Mereka “merdeka” untuk  mengekspresikan ide dan gagasannya. Para seniman cenderung memilih langkah dan proses berbeda dari orang lain dalam berkarya, dengan tujuan untuk mencari jati diri dan identitas masing-masing. Misalnya; ada seniman yang rela berpanas-panasan dalam berkarya, untuk menghasilkan lukisan naturalis (pemandangan alam, misalnya), dengan tujuan agar suasana kebatinan pelukis dengan objek alam yang dilukisnya menemukan kesatuan hubungan emosional yang erat. Atau ada seniman yang lebih senang membuat lukisan naturasil, dengan melihat atau meniru objek dari gambar atau foto, tanpa bersusah payah untuk terjun langsung ke lapangan. Mereka hanya duduk manis di studio atau tempat nyaman lainnya untuk berkarya. Pilihan semacam itu sering terjadi dalam realitas berkesenian kita saat ini. Keduanya dapat dipilih oleh siapapun, atau mungkin tidak dipilih sama sekali. Yang terpenting dari itu semua, tugas seorang seniman pada hakikatnya yaitu, berkarya dan mempertanggungjawabkan karyanya tersebut dengan penuh “kejujuran”.

Plok…plok…plok…tiba-tiba anaku yang bungsu melemparkan cat merah dan biru ke atas kanvas yang ada di sampingku. Sesaat aku hanya diam, kaget dan tertarik dengan ulah anakku itu. Saat itu, cat berceceran kemana-mana. Baju dan celanaku tak luput dari ceceran cat itu. Sementara itu, anaku hanya bisa tersenyum puas, sambil berkata “…lukisan Dede bagus yah…”. Aku dan istriku hanya bisa berpandangan, sedikit kesal tapi ada kebahagiaan dibalik kejadian itu. Aku kesal karena baju, celana dan lantai jadi kotor. Bahagia, karena anakku ternyata memiliki keinginan dan potensi untuk berkarya. Saat itu aku yakin anakku ingin mengekspresikan keinginannya dengan cara seperti itu. Sambil tersenyum bangga aku mencoba untuk membahagiakan hati anaku. “Iya…lukisan Dede bagus sekali. lukisan apa sih De?” aku bertanya seolah-olah ingin tau apa yang akan dibuat anaku. “Dede melukis bintang jatuh yah”. Jawab anaku polos.

“Wow…bintangnya cantik sekali ya…”. Istriku ikut memuji anaku. “iya dong mah, siapa dulu yang lukisnya.

Dede…”. Anaku dengan bangga menepuk-nepuk dadanya.

Sesaat aku terdiam mengamati aktivitas anakku yang asik dengan lukisannya itu. Aku bangga melihat anaku yang sedang berekspresi, tanpa kusuruh dan kukondisikan seperti itu. Anakku berkarya dengan hayalan dan imajinasinya sendiri.  Bahkan lebih dari itu, anakku dapat menginterpretasikan objek yang dibuatnya itu, dengan jawaban yang menarik perhatian kami berdua. kejadian tersebut, menguatkan pandanganku terhadap seniman dan proses kreatif yang dilakukannya selama ini. Aku yakin, seorang seniman memiliki ruang dan kebebasan berekspresi dalam berkarya. Mereka bebas mencurahkan ide dan gagasannya ke dalam karya dengan kreativitas masing-masing. Termasuk di dalamnya memiliki kebebasan untuk menginterpretasikan karyanya itu, sesuai dengan persepsi masing-masing. Lewat karya yang dihasilkan, seniman ingin mengkomunikasikan sesuatu kepada masyarakat. Mereka ingin berbicara, menyampaikan pendapat, menyampaikan harapan, mengutarakan permasalahan, berceloteh dan yang lainnya. Lewat karyanya pula seniman bisa mencurahkan segala perasaannya selama ini; baik perasaan senang, gembira, kecewa, dan yang lainnya.

Kring…suara HP terdengar keras di telingaku. Setelah kulihat, ternyata Hikmat Hadiat yang menghubungiku. Dia berkomunikasi denganku, untuk menyampaikan informasi tentang kegiatan FLS2N SMA yang akan digelar tahun ini. Sebagai Sekretaris MGMP Seni Budaya SMA Kabupaten Tasik, Hikmat termasuk figur yang bertanggungjawab terhadap tugas dan kewajibannya. Selesai berkomunikasi, aku teringat sosok temanku ini yang dikenal baik dan santun dalam berkomunikasi. Sehingga tak mengherankan jika dia dipercaya terus oleh teman-temannya untuk menjadi sekretaris MGMP Seni Budaya SMA di Kabupaten Tasikmalaya. Sikap baiknya itu, menjadi kekuatan dia dalam meningkatkan komunikasi dan kerja sama selama ini.

Tak terasa hari sudah siang. Hujan sudah mulai reda. Burung Pipit terlihat mulai berterbangan menuju sawah yang ada di dekat rumahku. Siang itu, kedua anakku menemukan “kebebasan dan kepuasan” untuk mengekspresikan ide dan gagasasnnya lewat karya lukis. Sementara aku hanya bisa diam, belum berbuat apaapa. Saat itu aku hanya bicara dengan diriku sendiri, dengan istriku, dengan karya anakku dan dengan kenangan masa laluku. Ya…siang itu, aku melihat kanvas, cat dan kuas berkolaborasi membentuk ekspresi visual yang harmonis bersama kedua anakku. ***