Seni Rupa Periode Islam

Sketsaterapi karya Destrayana

Islam sebagai agama, seni dan budaya yang berkembang di Indonesia memberi nafas dan warna tersendiri, terutama pada karya seni khususnya seni rupa yang dibedakan dengan hasil dari Negara Islam lainnya. Pembentukan nilai-nilai yang bersumber dari ajaran dan kebudayaan Islam serta berbagai proses asimilasi atau alkulturasi kebudayaan, juga dengan seni tradisi lokal daerah.

Indonesia sebagai wilayah kepulauan, tentu mempunyai corak kebudayaan yang beragam di masing-masing daerah. Kebudayaan agraris di daerah pedalaman ada yang tidak tersentuh kebudayaan asing, dibandingkan dengan kebudayaan dekat pantai sebagai pusat perdagangan terjadi asimilasi dan alkulturasi kebudayaan lokal dengan pendatang, pengaruh-mempengaruhi mempercepat tumbuhnya kebudayaan baru. Juga dengan adanya pusat kota kekuasaan pemerintahan kerajaan menjadi pusat sumber kebudayaan yang dianut oleh masyarakat pendukungnya. Ketika kebudayaan berbasis Hindu-Budha dari India, berkembang corak Hindu-Budha yang khas Indonesia, namun pada masa tersebut sebagian besar masih ada yang melanjutkan tradisi kebudayaan asli yang berasal dari masa pra-sejarah dan hingga datangnya agama Islam kebudayaan asli masih ada yang bertahan.

Seni Rupa Indonesia Islam, tidak lepas dari masuknya agama Islam ke Indonesia sekitar abad ke 7 M oleh para pedagang dari India, Persia dan China. Mereka menyebarkan ajaran Islam sekaligus memperkenalkan kebudayaannya masing-masing, maka timbul akulturasi kebudayaan. Senirupa Islam juga dikembangkan oleh para empu di istana-istana Kerajaan Islam, sebagai media pengabdian kepada para penguasa (Raja/ Sultan) kemudian dalam kaitannya dengan penyebaran agama Islam, para walipun berperan dalam mengembangkan seni di masyarakat pedesaan, misalnya da’wah Islam disampaikan dengan media seni wayang yang berakar dari seni pra-Islam sebelumnya.

Karya seni rupa Islam yang ditemukan di nusantara sangatlah beragam. Yang paling banyak tentunya adalah seni arsitektur yang terdapat pada bangunan-bangunan masjid dan juga istana-istana kesultanan. Selain itu, banyak juga ditemukan sentuhan Islam pada bangunan makam dan nisan. Beberapa batu nisan yang bertuliskan huruf Arab bahkan menjadi salah satu petunjuk waktu yang cukup akurat karena teruliskan angka tahun kematian jenazah pada nisan tersebut. Sebagai contoh adalah nisan seorang perempuan bernama Fatimah binti Maimun yang pada nisannya tertulis tahun kematian yang cukup tua yaitu 475 Hijriah. Jika dihitung dengan tahun Masehi, maka tahun tersebut adalah sekitar tahun 1082 M. Seni rupa Islam Indonesia yang lainnya termasuk juga karya-karya seni pahatan, lukis, ukir, dan tentunya seni kaligrafi. Karya-karya seni tersebut sebagian besar ditemukan di Sumatra dan Jawa.

Budaya Islam di Indonesia tidak sehebat seperti Kerajaan Mughal di India dengan Taj Mahal-nya. Hal inidisebabkan Islam masuk ke Indonesia dengan jalan damai sehingga seni Islam harus menyesuaikan diri dengan kebudayaan lama, dan Nusantara adalah negeri yang merupakan jalur perdagangan internasional, sehingga penduduknya lebih mementingkan masalah perdagangan daripada kesenian. Keseniannya sangat sederhana dan miskin. kekuatan himmah seperti mendorong Muslim di negara lain untuk menciptakan pekerjaan besar, tidak muncul di Indonesia. Kalau pun muncul, biasanya berasal dari negara luar atau peniruan yang tidak lengkap. Walaupun demikian, masuknya Islam ke Indonesia membawa tamaddun (kemajuan) dan kecerdasan bagi bangsa Indonesia. Islam datang ke Indonesia memberikan perubahan dalam bidang seni, misalnya, penggunaan batu nisan, seni bangunan,seni sastra, dan seni ukir.

Ciri-ciri Seni Rupa Islam Di Indonesia

  • Bersifat feodal, yaitu kesenian yang bersifat di istana sebagai media pengabdian kepada Raja / Sultan.
  • Bersumber dari kesenian pra Islam (seni prasejarah dan seni Hindu Budha)
  • Bentuk abstrak.
  • Terdiri dari bagian–bagian atau gabungan dari bagian-bagian.
  • Penuh dengan repetisi.
  • Dinamis dan penuh dengan kerumitan.

Macam-Macam Seni Budaya Islam di Indonesia

  1. Batu Nisan

Kebudayaan Islam di Indonesia mula-mula masuk ke Indonesia dalam bentuk batu nisan. Di Pasai masih dijumpai batu nisan makan Sultan Malik al-Saleh yang wafat pada tahun 1292. Batunya terdiri dari pualam putih diukir dengan tulisan arab yang sangat indah berisikan ayat al-qur’an dan keterangan tentang orang yang dimakamkan serta hari dan tahun wafatnya. Makam-makam yang serupa dijumpai juga di Jawa, seperti makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik.

Bentuk makam dari abad permulaan masuknya Islam menjadi contoh model bagi makam Islam kemudian.  Hal ini disebabkan sebelum Islam tidak ada makam. Orang Hindu dan Budha jenazahnya dibakar dan abunya dibuang ke laut, jika dia seorang kaya maka abunya disimpan di guci, dan jika dia seorang raja disimpan didalam candi.

Nisan itu umumnya didatangkan dari Gujarat sebagai barang pesanan. Bentuknya lunas (bentuk kapal terbalik) yang mengesankan pengaruh Persia. Bentuk-bentuk nisan kemudian hari tidak selalu sama. Pengaruh kebudayaan setempat sering mempengaruhi, sehingga ada bentuk teratai, keris, atau bentuk gunungan seperti gunungan pewayangan. Namun kebudayaan nisan ini tidak berkembang lebih lanjut, yang termashur adalah makam Malik al-Saleh di Perlak dan makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik.

  1. Arsitektur (Seni Bangunan)

Wujud akulturasi dalam seni bangunan dapat terlihat pada bangunan masjid, makam, istana. Wujud akulturasi dari masjid kuno memiliki ciri sebagai berikut:

  1. Atapnya berbentuk tumpang yaitu atap yang bersusun semakin ke atas semakin kecil dari tingkatan paling atas berbentuk limas. Jumlah atapnya ganjil 1, 3 atau 5. Dan biasanya ditambah dengan kemuncak untuk memberi tekanan akan keruncingannya yang disebut dengan Mustaka.
  2. Tidak dilengkapi dengan menara, seperti lazimnya bangunan masjid yang ada di luar Indonesia atau yang ada sekarang, tetapi dilengkapi dengan kentongan atau bedug untuk menyerukan adzan atau panggilan sholat. Bedug dan kentongan merupakan budaya asli Indonesia.
  3. Letak masjid biasanya dekat dengan istana yaitu sebelah barat alun-alun atau bahkan didirikan di tempat-tempat keramat yaitu di atas bukit atau dekat dengan makam.

Peninggalan sejarah Islam dalam bentuk masjid, dapat kita lihat antara lain pada beberapa masjid berikut.

  1. Masjid Agung Demak
  2. Masjid Gunung Jati Cirebon
  3. Masjid Kudus
  4. Masjid Raya Aceh

Di masjid-masjid itulah menurut sejarah, para wali mengajarkan agama Islam.  Selain bangunan masjid sebagai wujud akulturasi kebudayaan Islam, juga terlihat pada bangunan makam.

Ciri-ciri dari wujud akulturasi pada bangunan makam terlihat dari:

  1. Makam-makam kuno dibangun di atas bukit atau tempat-tempat yang keramat.
  2. Makamnya terbuat dari bangunan batu yang disebut dengan Jirat atau Kijing,nisannya juga terbuat dari batu.
  3. Di atas jirat biasanya didirikan rumah tersendiri yang disebut dengan cungkup atau kubba.
  4. Dilengkapi dengan tembok atau gapura yang menghubungkan antara makam dengan makam atau kelompok-kelompok makam. Bentuk gapura tersebut ada yang berbentuk kori agung (beratap dan berpintu) dan ada yang berbentuk candi bentar (tidak beratap dan tidak berpintu).
  5. Di dekat makam biasanya dibangun masjid, maka disebut masjid makam dan biasanya makam tersebut adalah makam para wali atau raja. Contohnya masjid makam Sendang Duwur di Tuban.

Bangunan istana arsitektur yang dibangun pada awal perkembangan Islam, juga memperlihatkan adanya unsur akulturasi dari segi arsitektur ataupun ragam hias, maupun dari seni patungnya contohnya istana Kasultanan Yogyakarta dilengkapi dengan patung penjaga Dwarapala (Hindu).

  1. Seni Hias

Tradisi Islam tidak menggambarkan bentuk manusia atau hewan. Seni ukir relief yang menghias Masjid, makam Islam berupa suluran tumbuh-tumbuhan namun terjadi pula Sinkretisme agar didapat keserasian, ditengah ragam hias suluran terdapat bentuk kera yang distilir. Ukiran ataupun hiasan, selain ditemukan di masjid juga ditemukan pada gapura-gapura atau pada pintu dan tiang. Untuk hiasan pada gapura.

Seni hias islam selalu menghindari penggambaran makhluk hidup secara realis, maka untuk penyamarannya dibuatkan stilasinya atau diformasi dengan bentuk tumbuh-tumbuhan.

Ketika Islam baru datang ke Indonesia, terutama ke Jawa, ada kehati-hatian para penyiar agama. Banyak candi-candi besar, termasuk candi Borobudur, yang semula ditimbun tanah pada masa penjajahan Belanda dan kemudian digali kembali, supaya tidak mengganggu para mualaf. Membuat patung dari seni ukir pun dilarang, kalaupun timbul kembali, kesenian itu harus disamarkan, sehingga seni ukir dan seni patung menjadi terbatas kepada seni ukir saja.

  1. Aksara dan Seni Sastra

Tersebarnya agama Islam ke Indonesia maka berpengaruh terhadap bidang aksara atau tulisan, yaitu masyarakat mulai mengenal tulisan Arab, bahkan berkembang tulisan Arab Melayu atau biasanya dikenal dengan istilah Arab gundul yaitu tulisan Arab yang dipakai untuk menuliskan bahasa Melayu tetapi tidak menggunakan tanda-tanda a, i, u seperti lazimnya tulisan Arab. Di samping itu juga, huruf Arab berkembang menjadi seni kaligrafi yang banyak digunakan sebagai motif hiasan ataupun ukiran.

Seni Kaligrafi, yaitu seni corak Islam asli yang menggunakan huruf Arab sebagai unsur utama. Seni ini dapat ditemukan pada bangunan masjid, batu nisan, istana / keraton raja Seni kaligrafi atau seni khat adalah seni tulisan indah. Dalam kesenian Islam menggunakan bahasa arab. Sebagai bentuk simbolis dari rangkaian ayat-ayat suci Al-Qur’an. Berdasarkan fungsinya seni kaligrafi dibedakan menjadi, yaitu:

  1. Kaligrafi terapan berfungsi sebagai dekorasi / hiasan
  2. Kaligrafi piktural berfungsi sebagai pembentuk gambar
  3. Kaligrafi ekspresi berfungsi sebagai media ungkapan perasaan seperti kaligrafi karya AD. Pireus dan Ahmad Sadeli.

Sedangkan dalam seni sastra yang berkembang pada awal periode Islam adalah seni sastra yang berasal dari perpaduan sastra pengaruh Hindu-Budha dan sastra Islam yang banyak mendapat pengaruh Persia. Dengan demikian wujud akulturasi dalam seni sastra tersebut terlihat dari tulisan / aksara yang dipergunakan yaitu menggunakan huruf Arab Melayu dan isi ceritanya juga ada yang mengambil hasil sastra yang berkembang pada jaman Hindu.

Bentuk Seni Sastra Yang Berkembang

   Hikayat adalah cerita atau dongeng yang berpangkal dari peristiwa atau tokoh sejarah. Hikayat ditulis dalam bentuk peristiwa atau tokoh sejarah. Contoh hikayat yang terkenal yaitu Hikayat 1001 Malam, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Pandawa Lima (Hindu), Hikayat Sri Rama (Hindu).

  1. Babad adalah kisah rekaan pujangga keraton sering dianggap sebagai peristiwa sejarah contohnya Babad Tanah Jawi (Jawa Kuno), Babad Cirebon.
  2. Suluk adalah kitab yang membentangkan soal-soal tasawwuf contohnya Suluk Sukarsa, Suluk Wijil, Suluk Malang Sumirang dan sebagainya.
  3. Primbon adalah hasil sastra yang sangat dekat dengan Suluk karena berbentuk kitab yang berisi ramalan-ramalan, keajaiban dan penentuan hari baik atau buruk.***

Sumber : 

http://www.fauzulmustaqim.com/2015/11/makalah-peradaban-seni-budaya-islam-di.html
http://blog.isi-dps.ac.id/mulyadiutomo/seni-rupa-islam-indonesia-1-1-10
http://abbeart.blogspot.co.id/2016/08/ciri-ciri-seni-rupa-indonesia-islam.html
http://myekablog.blogspot.co.id/2016/02/makalah-seni-rupa-islam.html
http://www.emakmbolang.com/2015/08/menapak-jejak-wali-songo-di-kota-gresik.html
http://integralist.blogspot.co.id/2013/07/samudra-pasai.html
http://betulcerita.blogspot.co.id/2015/01/sejarah-bangunan-masjid-agung-demak.html
http://www.intipaceh.com/2016/07/seorang-jenderal-tewas-tertembak-di.html
http://ilmuindonesia45.blogspot.co.id/2014/02/sejarah-masjid-agung-sang-cipta-rasa.html
http://www.abouturban.com/2016/10/09/masjid-menara-kudus-hasil-akulturasi-budaya/
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Babad_nitik_sultan_agungan.jpg
http://abiedl.blogspot.co.id/2014/05/suluk.html