Seni & Islam (part 2)

Lukisan Karya Harry Darwin

Oleh : Lukman Zen

Sejak kejatuhan negeri‑negeri Islam ke tangan penjajah Timur (Rusia) dan Barat pada abad Ke-19 M (8 H) berbagai tragedi melingkupi umat Islam, termasuk bidang kesenian yang mulai pula diwarnai oleh seni budaya penjajah. Kini para generasi muda kita telah sulit melepaskan diri dari seni dan budaya Barat yang telah merasuk kedalam dirinya. Mereka bahkan sudah keranjingan dan menggilai seniman‑senimannya. Mereka menjadi fans group heavy metal band dan menciptakan idola, misalnya Madonna, Mick Jagger, Jason Donovan, Rod Stewart, Tommy Page, dan masih banyak idola‑idola lainnya baik di bidang film, musik maupun seni lainnya. Sementara kehidupan mereka selalu didera oleh kepedihan dan kepahitan hidup.

Demikianlah keadaan generasi penerus itu. Melihat keadaan umat kita yang menyedihkan itu muncul berbagai pertanyaan misalnya, bagaimana hukum seni (suara, musik dan tari) yang saat ini telah mendarah daging di kalangan kaum muslimin? Boleh atau haram? Bagaimana pula hukum mendengarkan seni suara di radio kaset, VCD/DVD atau menonton film dan pertunjukan baik lewat televisi, VCD/DVD, bioskop, panggung pertunjukan, dan/atau yang lainnya?

Selain itu, pembahasan masalah seputar seni lewat tinjauan syar’i terasa kurang ditulis, padahal sebenarnya pembahasan­ masalah seni sangat digemari dan dinantikan. Insya Allah, pada pembahasan sederhana ini dapat menjawab beberapa pertanyaan tersebut dan untuk mengisi kekosongan pustaka dalam masalah ini.

Masyarakat kaum muslimin dewasa ini umumnya menghadapi kesenian sebagai suatu masalah hingga timbul berbagai pertanyaan seperti tersebut di atas. Di samping itu dalam praktek kehidupan sehari‑hari, sadar atau tidak, mereka juga telah terlibat dengan masalah seni. Bahkan sekarang ini bidang tersebut telah menjadi bagian dari gaya hidup mereka dan bukan hanya bagi yang tinggal di kota. Umat kita yang berada di desa dan di kampung pun telah terasuki.

Media elektronika seperti radio, radio-kaset, televisi, VCD dan DVD telah menyerbu pedesaan. Media ini telah lama mempengaruhi kehidupan anak‑anak mudanya. Kehidupan di kota bahkan lebih buruk lagi. Tempat‑tempat hiburan (maksiat) seperti klab malam (night club), café, bioskop dan panggung pertunjukan jumlahnya sangat banyak dan telah mewarnai kehidupan pemuda‑pemudanya.

Sering kita melihat anak‑anak muda berkumpul di rumah teman‑temannya. Mereka mencari kesenangan dengan bernya­nyi, menari bersama sambil berjoget tanpa memperdulikan lagi hukum halal‑haram. Banyak di antara mereka yang berpikir bahwa hidup itu hanya untuk bersenang‑senang, jatuh cinta, pacaran, dan lain‑lain.

Semua keadaan yang dituturkan di atas terjadi dan ber­awal dari kejatuhan seni budaya dan peradaban Islam. Kita dapat menyaksikan sendiri, seni dan budaya kita telah digantikan dan tergeser oleh seni budaya dan peradaban produk Barat yang nota­bene menekankan kehidupan yang bebas tanpa ikatan agama apapun.

Cabang seni yang paling dipermasalahkan adalah nyanyian, musik dan tarian. Ketiga bidang itu telah menjadi bagian yang penting dalam kehidupan modern sekarang ini karena semua cabang seni ini dirasakan langsung telah merusak akhlaq dan nilai‑nilai keislaman.

Adanya dampak negatif dari bidang kesenian menyebabkan banyak orang bertanya-tanya, khususnya dari kalangan pemuda yang masih memiliki ghirah Islam. Mereka bertanya, bagaimana pandangan Islam terhadap seni budaya? Bolehkah kita bermain gitar, piano, organ, drum band, seruling, bermain musik blues, klasik dan jazz, keroncong dan dangdut, musik lembut, musik rock, dan lain‑lain? Bagaimana pula dengan lirik lagu bernada asmara, porno, perjuangan, qasidah, kritik sosial, dan sejenisnya? Di samping itu, bagaimana pandangan hukum Islam dalam seni tari? Apakah wanita dibolehkan menari bersama lelaki dengan iringan musik tarian Barat seperti twist, tanggo, soul, disco, dan sebagainya? Kalau tidak boleh dengan tarian Barat, bagaimana dengan tari tradisional? Juga, bolehkah wanita atau lelaki menari di kalangan mereka masing‑masing?

Politik, Peradaban dan Seni Umat Islam

Sejak kejatuhan politik dan peradaban Islam yang terjadi pada abad ke-19 M, politik Barat telah mempengaruhi dan menguasai umat Islam. Banyak negeri‑negeri Islam yang tadinya dijajah menjadi bekas jajahan kekuasaan Barat. Melalui pola dominasi Barat di kalangan umat Islam tersebut maka tidak mengherankan bila pengaruh sosio-budaya Barat mulai menyusup ke tengah‑tengah kaum muslimin, terutama pada masyarakat Islam yang dijajah secara langsung oleh negara­‑negara adikuasa.

Sebagaimana kita ketahui, ciri khas peradaban Barat adalah sekulerisme. Mereka memisahkan kebudayaan dan adat istiadat bangsa dengan agama. Walaupun sekulerisme ini sangat bertentangan dengan aqidah, kebudayaan dan peradaban Islam namun nyatanya sistem ini telah tumbuh dan berkembang di kalangan kaum muslimin. Pertumbuhan ini terjadi melalui akulturasi kebudayaan Barat dengan kebudayaan Islam. Negara‑negara penjajah memang telah berhasil diusir oleh kaum muslimin dengan gemi­lang namun kebudayaan dan peradabannya mereka tinggalkan. Proses sekulerisme pun masih berlanjut di kalangan umat Islam sampai sepuluh tahun terakhir dari abad ke-21 ini disebabkan adanya media massa dan lembaga‑lembaga pendidikan yang ber­asaskan sekulerisme.

Akulturasi Budaya

Jatuhnya peradaban dan kebudayaan Islam setelah diakultu­rasikan antara kebudayaan Barat dengan kebudayaan umat Islam membuahkan sekulerisme dunia Islam. Karenanya tidak mengherankan bila sekarang ini kita dapat menemukan dengan mudah akibat‑akibat yang ditimbulkannya, antara lain sebagai berikut :

  1. Kebudayaan yang diterapkan di dunia Islam sekarang ini telah tercemar dalam kondisi cukup parah oleh kebudayaan Barat, dan lebih parahnya lagi kebudayaan itu dijadikan sebagai konsepsi kebudayaan umat Islam.
  2. Masyarakat kaum muslimin telah menjauhi konsepsi masya­rakat Islam yang dulu berdasarkan aqidah, ide‑ide, jiwa dan peraturan Islam. Sekarang ini mereka lebih mirip dengan masyarakat Eropa, Amerika, Rusia dan Cina daripada masyarakat Islam.
  3. Prinsip‑prinsip sosio-budaya yang dipraktekkan oleh umat Islam telah jauh dari prinsip‑prinsip sosio-budaya Islam, baik dari segi hubungan antara kaum pria maupun wanitanya. Demikian pula halnya dengan segi‑segi hiburan, kesenian, peragaan, busana ataupun bentuk‑bentuk bangunan (arsitek­tur).
  4. Dengan semakin giatnya akulturasi dalam bidang kesenian, seni umat Islam telah diwarnai oleh kesenian Barat yang seku­leristik. Dengan demikian semakin banyaklah karya seni kaum muslimin saat ini yang berlawanan dengan konsepsi seni Islam. *** (bersambung)