Ketika Hutan Menjadi Kenangan : Membaca Kerinduan dalam “Missing Home”

Loading


Ketika Hutan Menjadi Kenangan: Membaca Kerinduan dalam “Missing Home”

Karya “Missing Home” karya Corry Harysyahatullaely merupakan sebuah lukisan cat air yang menarik bukan hanya karena menghadirkan figur orangutan secara kuat, tetapi terutama karena berhasil mengubah persoalan ekologis menjadi narasi visual tentang kehilangan, kerinduan, dan keterasingan.

Di dalam karya ini, alam tidak semata-mata menjadi latar belakang. Alam justru menjadi subjek yang hilang. Orangutan yang memegang sebuah fragmen lanskap—sebuah pohon, tanah, dan kehidupan yang tersisa—seolah sedang memandangi kembali rumah yang telah lenyap. Di sinilah kekuatan konseptual karya ini berada.

Berikut ulasan dan kritik seni secara lebih mendalam.

KRITIK SENI RUPA

Corry Harysyahatullaely — “Missing Home”

Cat Air di Kertas, 60 × 70 cm

Image

I. Identitas Karya

Pelukis: Corry Harysyahatullaely
Judul: Missing Home
Media: Cat Air di Kertas
Ukuran: 60 × 70 cm

II. Deskripsi Visual

Secara visual, karya ini menampilkan seekor orangutan sebagai figur utama. Tubuh orangutan memenuhi sebagian besar bidang kanan dan tengah komposisi. Posisi tubuhnya relatif membungkuk dengan kedua lengannya terangkat ke arah sebuah objek berbentuk seperti fragmen ruang/lanskap yang berada di bagian kiri atas.

Fragmen tersebut memperlihatkan sebuah pohon yang tumbuh pada sebidang tanah, dengan suasana yang jauh lebih hijau dan hidup dibandingkan lanskap di sekelilingnya.

Kontras ini menjadi elemen penting.

Di satu sisi terdapat ruang kecil yang masih menyimpan kehidupan—pohon hijau, tanah, dan suasana yang relatif damai. Di sisi lain, hampir seluruh lingkungan sekitar orangutan digambarkan dalam kondisi gersang, rusak, berwarna kelabu dan cokelat, dengan bentuk-bentuk yang menyerupai sisa batang, ranting, atau material kehancuran.

Orangutan seolah sedang menatap kembali rumahnya.

Karena itu, judul Missing Home tidak sekadar menjelaskan apa yang terlihat. Judul tersebut memberikan arah pembacaan terhadap keseluruhan visual.

III. Analisis Unsur Seni Rupa

1. Garis

Garis dalam karya ini bersifat ekspresif dan tidak sepenuhnya terkontrol secara akademik-realistis.

Pada tubuh orangutan, garis-garis pendek dan sapuan yang mengikuti arah rambut menciptakan kesan organik, kasar, dan hidup. Bulu tidak dibangun dengan garis kontur yang kaku, melainkan melalui perpaduan sapuan warna dan guratan.

Sementara itu, pada bagian lingkungan yang rusak, garis cenderung lebih patah, bersilangan dan tidak beraturan.

Perbedaan karakter garis tersebut menghasilkan dua kualitas visual:

organisme yang hidup versus lingkungan yang mengalami kehancuran.

Hal tersebut merupakan keputusan visual yang cukup efektif.

2. Warna

Warna merupakan salah satu kekuatan utama karya.

Palet warna orangutan didominasi:

  • cokelat kemerahan,
  • oker,
  • jingga,
  • cokelat tua,
  • sedikit warna keabu-abuan.

Warna-warna tersebut membuat figur orangutan memiliki temperatur visual yang hangat.

Sebaliknya, lingkungan didominasi oleh:

  • abu-abu,
  • putih,
  • biru pucat,
  • cokelat kusam.

Kontras temperatur ini menyebabkan perhatian pertama penonton jatuh pada orangutan.

Namun yang menarik adalah bagian pohon di dalam fragmen lanskap menggunakan hijau yang relatif segar.

Secara psikologis, hijau tersebut berfungsi seperti sebuah memori visual.

Ia bukan hanya pohon.

Ia dapat dibaca sebagai:

rumah, kehidupan, masa lalu, habitat, keamanan, bahkan ingatan.

Dengan demikian, warna di dalam karya bekerja pada dua tingkat: estetis sekaligus simbolis.

IV. Komposisi

Komposisi karya cukup berhasil membangun struktur perhatian.

Figur orangutan ditempatkan dominan di sebelah kanan, sementara objek yang dipegang berada di sebelah kiri atas. Kedua elemen tersebut membentuk hubungan diagonal.

Secara sederhana dapat dibaca sebagai:

orangutan → tangan → fragmen rumah.

Arah tersebut menciptakan alur visual yang membuat mata penonton berpindah dari tubuh orangutan menuju objek yang sedang dipandangnya.

Komposisi ini juga menghindari penempatan figur tepat di tengah bidang sehingga menghasilkan dinamika.

Namun terdapat satu hal yang menarik untuk dikritisi.

Objek rumah/habitat yang berada di tangan orangutan merupakan pusat konseptual karya, tetapi secara ukuran relatif kecil dibandingkan figur.

Secara visual hal tersebut memang membuat objek terasa seperti sesuatu yang “jauh” atau “hilang”. Akan tetapi, secara konseptual, apabila ingin meningkatkan daya simboliknya, objek tersebut dapat dibuat sedikit lebih tegas melalui:

  • kontras nilai,
  • ketajaman bentuk,
  • pengaturan ruang negatif,
  • atau aksentuasi warna.

Bukan berarti harus diperbesar. Justru kecilnya objek merupakan bagian dari kekuatan metafornya. Yang diperlukan adalah penguatan visual hierarchy agar objek tersebut semakin terasa sebagai pusat makna.

V. Ruang dan Perspektif

Menarik bahwa karya tidak menggunakan perspektif naturalistik secara ketat.

Fragmen habitat seolah berada dalam sebuah ruang yang berbeda dari ruang aktual.

Ini menghasilkan semacam visual displacement—perpindahan ruang secara metaforis.

Pohon berada di sebuah “ruang lain”, sementara orangutan berada di ruang yang telah mengalami kehancuran.

Dengan demikian, karya tidak harus dibaca sebagai representasi kejadian literal.

Ia lebih tepat dipahami sebagai ruang psikologis.

Rumah tersebut mungkin tidak benar-benar sedang berada di tangan orangutan.

Rumah tersebut berada dalam ingatan orangutan.

Di titik ini karya mulai bergerak dari ilustrasi menuju representasi simbolik.

VI. Tekstur dan Teknik Cat Air

Pemilihan cat air di atas kertas sangat relevan dengan tema.

Cat air memiliki karakter transparan, spontan dan memungkinkan terjadinya:

  • wash,
  • wet on wet,
  • wet on dry,
  • granulation,
  • bleeding,
  • serta pertemuan warna yang tidak sepenuhnya dapat dikontrol.

Karakter tersebut terlihat dimanfaatkan terutama pada bagian langit, atmosfer, dan lanskap.

Bagian tubuh orangutan memiliki sapuan yang lebih padat sehingga figur memperoleh bobot visual.

Menariknya, teknik cat air juga memiliki sifat rapuh dan sementara.

Sifat tersebut secara konseptual dapat dibaca beriringan dengan tema kehilangan.

Rumah yang digambarkan tidak lagi berupa hutan yang luas, tetapi hanya menjadi sebuah fragmen.

Dengan demikian:

medium dan tema memiliki hubungan yang cukup harmonis.

Ini merupakan salah satu kualitas yang patut diapresiasi dari karya.

VII. Figur Orangutan sebagai Subjek

Orangutan di dalam karya ini bukan sekadar objek fauna.

Ia telah mengalami personifikasi.

Pose tubuh, arah kepala, serta gerak kedua tangannya memberikan kesan emosional yang sangat manusiawi.

Orangutan tampak seperti:

  • mengingat,
  • mencari,
  • merindukan,
  • mempertanyakan,
  • atau bahkan berduka.

Inilah yang membuat judul Missing Home menjadi penting.

Jika hanya melihat gambar tanpa judul, penonton mungkin membaca karya ini sebagai ilustrasi satwa dan lingkungan.

Tetapi ketika bertemu judul Missing Home, pembacaan berubah menjadi:

“Ia kehilangan rumah.”

Dan dari sini muncul pertanyaan yang lebih besar:

Siapa yang menyebabkan rumah itu hilang?

Pertanyaan tersebut membawa karya masuk ke wilayah kritik ekologis.

Tinjauan Teknik Cat Air

Penggunaan cat air pada kertas sangat mendukung karakter tema. Cat air memiliki kualitas transparan yang memungkinkan warna-warna berlapis membentuk suasana lembap, berkabut, dan atmosferik. Media ini juga memiliki sifat rapuh dan cair, sehingga cocok untuk menggambarkan ingatan yang tidak stabil serta dunia yang seolah-olah sedang larut.

Kualitas terbaik karya tampak pada kemampuan pelukis mengolah sapuan spontan menjadi bentuk yang terbaca. Tubuh orangutan memiliki massa, volume, dan karakter rambut meskipun tidak dibangun melalui detail akademik yang ketat. Permainan warna hangat pada bulu juga menghasilkan kedalaman melalui tumpang tindih transparansi.

Bagian lanskap miniatur cukup efektif karena memiliki kualitas ilustratif dan simbolis sekaligus. Pohon hijau menjadi aksen yang mudah ditangkap mata. Sementara itu, latar belakang yang lebih cair dan tidak rinci memberi ruang bagi objek tersebut untuk tampil sebagai pusat makna.

Dalam beberapa area, terutama pada bagian bawah dan latar kayu, akumulasi sapuan gelap dan putih terasa cukup padat. Jika tidak dikendalikan, kepadatan tersebut dapat mengurangi kejernihan struktur ruang. Meski demikian, secara ekspresif bagian itu berhasil membangun kesan lingkungan yang rusak dan penuh residu.

VIII. Interpretasi Simbolik

Saya melihat setidaknya terdapat beberapa simbol utama dalam karya ini.

Orangutan

Melambangkan makhluk hidup yang menjadi korban perubahan lingkungan.

Pohon

Melambangkan kehidupan, habitat, rumah, kontinuitas dan keberlangsungan.

Fragmen lanskap

Melambangkan memori tentang rumah yang tersisa dalam ingatan.

Lingkungan tandus

Melambangkan kerusakan ekosistem. Tangan orangutan

Menjadi simbol hubungan manusia dengan alam, tetapi sekaligus dapat dibaca sebagai gestur ketidakberdayaan.

Yang menarik adalah orangutan tidak sedang menyerang.
Ia tidak sedang marah. Ia justru sedang memegang dan melihat. Gestur tersebut menghasilkan emosi yang lebih dalam:

kesedihan yang tenang.

IX. Makna Judul “Missing Home”

Interpretasi Makna

Judul Missing Home secara langsung memberi kunci pembacaan terhadap karya. “Home” dalam lukisan ini bukan hanya rumah dalam pengertian arsitektural, melainkan habitat, asal-usul, dan ruang kehidupan yang membentuk identitas.

Orangutan yang memeluk lanskap kecil dapat dimaknai sebagai makhluk yang berusaha mempertahankan ingatan terhadap alamnya. Ia tidak sekadar kehilangan tempat tinggal, tetapi juga kehilangan kontinuitas ekologis. Hutan tidak hadir lagi sebagai ruang luas yang dapat dijelajahi; hutan menyusut menjadi benda kecil, seperti kenangan yang dapat disimpan tetapi tidak dapat menggantikan pengalaman hidup yang sesungguhnya.

Objek transparan memiliki ambivalensi simbolik. Di satu sisi, ia tampak seperti dunia yang dilindungi. Di sisi lain, ia juga menyerupai ruang kurungan. Alam di dalamnya tetap hijau, tetapi terpisah dari dunia luar. Dengan demikian, karya ini menyampaikan pertanyaan kritis: apakah alam yang hanya tersisa dalam bentuk miniatur, koleksi, atau kenangan masih dapat disebut sebagai rumah?

Latar penuh kayu dan puing memperluas isu personal menjadi persoalan ekologis. Kerinduan orangutan menjadi representasi dari deforestasi, fragmentasi habitat, eksploitasi hutan, serta hubungan manusia dengan alam yang semakin instrumental. Karya ini tidak menampilkan kekerasan secara langsung, tetapi justru menggunakan suasana sunyi untuk menghasilkan tekanan emosional yang lebih kontemplatif.

Judul ini sangat efektif.

Missing Home memiliki ambiguitas bahasa yang justru memperkaya karya.

Ia dapat dibaca sebagai:

“Merindukan rumah.”

Tetapi juga dapat dibaca sebagai:

“Rumah yang hilang.”

Dua pengertian tersebut menghasilkan lapisan makna yang berbeda.

Jika “missing” dipahami sebagai merindukan, maka karya berbicara mengenai nostalgia.

Jika “missing” dipahami sebagai hilang, maka karya berbicara mengenai kehancuran.

Ketika keduanya bertemu, lahirlah makna:

Kerinduan terhadap sesuatu yang telah hilang.

Ini merupakan pilihan judul yang kuat secara konseptual.

Image

X. Dimensi Ekologis

Karya ini dapat ditempatkan dalam wilayah seni lingkungan (environmental art) atau seni ekologis, meskipun secara bentuk ia tetap merupakan lukisan representasional.

Namun karya ini tidak berhenti pada pesan:

“Lindungi orangutan.”

Pesan seperti itu akan terlalu sederhana.

Yang lebih menarik justru adalah pertanyaan mengenai habitat.

Orangutan tidak hanya kehilangan tempat tinggal.

Ia kehilangan:

  • ekosistem,
  • sumber makanan,
  • ruang reproduksi,
  • relasi ekologis,
  • dan bagian dari identitas biologisnya.

Karena itu, persoalan dalam karya sebenarnya bukan hanya tentang seekor satwa.

Ia adalah persoalan tentang relasi manusia dengan alam.

Hutan yang hilang bukan sekadar kumpulan pohon yang ditebang.

Hutan adalah rumah bagi sistem kehidupan.

XI. Kritik Sosial yang Tersirat

Karya ini juga dapat dibaca sebagai kritik sosial tanpa harus menampilkan manusia.

Ini menarik.

Tidak ada alat berat.

Tidak ada perusahaan.

Tidak ada pembalak.

Tidak ada manusia yang sedang menebang pohon.

Tetapi akibat dari tindakan manusia justru memenuhi seluruh ruang.

Dengan kata lain:

Pelaku tidak hadir, tetapi akibat perbuatannya hadir.

Secara artistik, strategi semacam ini cukup efektif karena membuat penonton sendiri yang mengisi kekosongan narasi.

Pertanyaan kemudian muncul:

Mengapa rumah itu hilang?

Dan jawabannya membawa penonton kepada persoalan:

  • deforestasi,
  • eksploitasi sumber daya,
  • pembukaan lahan,
  • perubahan penggunaan hutan,
  • dan krisis ekologis.

Dengan demikian, karya memiliki potensi menjadi kritik ekologis sekaligus kritik peradaban.

XII. Pendekatan Semiotik

Jika dibaca menggunakan pendekatan semiotika, karya ini memiliki hubungan antara ikon, indeks, dan simbol.

Orangutan merupakan ikon karena secara visual merepresentasikan objek yang dikenal.

Lanskap yang rusak berfungsi sebagai indeks terhadap suatu kondisi ekologis—kehancuran atau hilangnya habitat.

Sedangkan pohon yang berada di dalam fragmen dapat menjadi simbol dari rumah, kehidupan dan harapan.

Menariknya, satu objek dapat memiliki ketiga fungsi tersebut sekaligus.

Inilah yang membuat karya lebih kaya daripada sekadar lukisan satwa.

XIII. Aspek Emosional

Kekuatan terbesar karya ini menurut saya justru berada pada emosi yang tidak berteriak.

Tidak terdapat adegan dramatis.

Tidak ada darah.

Tidak ada api.

Tidak ada manusia menangis.

Namun justru karena kesederhanaan tersebut, penonton diberi ruang untuk merasakan.

Orangutan tampak seperti sedang memegang sesuatu yang sangat berharga tetapi tidak dapat dikembalikan.

Secara emosional, karya bergerak dari:

melihat → memahami → merasa → mempertanyakan.

Ini merupakan mekanisme komunikasi visual yang efektif.

XIV. Aspek Estetika

Secara estetis, karya memiliki kecenderungan ekspresif-realis.

Figur masih dapat dikenali secara anatomis, tetapi pelukis tidak terjebak pada reproduksi fotografis.

Sapuan cat air tetap terlihat.

Ada spontanitas.

Ada transparansi.

Ada bagian yang dibiarkan “bernapas”.

Hal tersebut penting karena apabila seluruh bagian dibuat terlalu realistis, karya berpotensi berubah menjadi sekadar ilustrasi zoologis.

Justru jejak tangan pelukis memberikan nilai artistik dan subjektivitas.

XV. Catatan Kritis terhadap Karya

Sebagai sebuah kritik seni, karya ini juga perlu dilihat secara kritis, bukan hanya dipuji.

1. Latar belakang masih dapat diperdalam

Lanskap kehancuran sudah terbaca, tetapi secara konseptual dapat dikembangkan lebih jauh.

Misalnya, karakter kehancuran dapat dibuat lebih ambigu sehingga penonton tidak langsung berhenti pada pembacaan “hutan rusak”.

Ambiguitas dapat memberikan ruang interpretasi yang lebih luas.

2. Hubungan antara tangan dan fragmen habitat

Ini merupakan bagian paling penting secara naratif.

Karena itu, transisi visual antara tangan orangutan dan fragmen habitat bisa menjadi perhatian utama dalam pengembangan karya.

Semakin kuat hubungan tersebut, semakin kuat pula gagasan “memegang kenangan”.

3. Hierarki visual

Figur orangutan sangat dominan.

Ini berhasil secara figuratif, tetapi objek habitat sebenarnya merupakan pusat konseptual.

Ke depan, pelukis dapat mengeksplorasi bagaimana membuat pusat konseptual dan pusat visual memiliki bobot yang lebih seimbang.

4. Risiko sentimentalitas

Tema orangutan dan kehilangan habitat sangat mudah masuk ke wilayah sentimental.

Namun karya ini relatif berhasil menghindari sentimentalitas berlebihan karena pelukis tidak menggunakan ekspresi wajah yang terlalu dramatis.

Justru pendekatan yang tenang ini sebaiknya dipertahankan.

XVI. Posisi Karya dalam Konteks Seni Rupa

Karya Missing Home dapat ditempatkan pada persilangan beberapa kecenderungan seni:

Seni representasional
karena menghadirkan figur orangutan secara recognizable.

Seni ekspresif
karena penggunaan sapuan cat dan warna tidak sepenuhnya naturalistik.

Seni lingkungan
karena mengangkat persoalan habitat dan kehancuran ekologis.

Seni naratif
karena terdapat cerita yang dapat dibaca melalui hubungan antara figur dan objek.

Seni simbolik
karena objek visual memiliki makna yang melampaui bentuk fisiknya.

Persilangan inilah yang membuat karya memiliki potensi pembacaan yang cukup luas.

Image

XVII. Pembacaan Filosofis

Pada lapisan yang lebih dalam, karya ini sebenarnya tidak hanya bertanya:

“Di mana rumah orangutan?”

Tetapi juga:

“Apa yang terjadi ketika sebuah makhluk kehilangan tempat untuk menjadi dirinya sendiri?”

Pertanyaan tersebut membawa karya dari persoalan ekologis menuju persoalan eksistensial.

Rumah bukan hanya bangunan.

Rumah adalah tempat seseorang atau suatu makhluk memiliki keterhubungan dengan dunia.

Ketika habitat hilang, yang hilang bukan hanya ruang.

Yang hilang adalah relasi antara makhluk hidup dan lingkungannya.

Karena itu Missing Home dapat dibaca sebagai metafora yang jauh lebih luas:

Ketika manusia merusak alam, sesungguhnya manusia sedang menghapus bagian dari dunia yang memungkinkan kehidupan berlangsung.


XVIII. Penilaian Artistik

Jika dinilai berdasarkan beberapa aspek, karya ini memiliki kekuatan sebagai berikut:

AspekPenilaian
GagasanKuat
Relevansi temaSangat kuat
KomposisiBaik
Pengolahan warnaKuat
EkspresiKuat
Teknik cat airBaik–kuat
SimbolismeSangat kuat
Narasi visualSangat kuat
Kedalaman ekologisKuat
Potensi pengembanganSangat besar

Kekuatan utamanya bukan pada kompleksitas teknik semata, tetapi pada kemampuan menyatukan figur, medium, warna, komposisi dan judul menjadi satu gagasan.

Kritik Konstruktif

Kekuatan

  • Gagasan visualnya kuat dan mudah dikenali tanpa menjadi terlalu literal.

  • Metafora rumah sebagai habitat yang tersimpan dalam ruang kecil sangat efektif.

  • Kontras antara alam yang utuh dan alam yang hancur membangun daya gugah ekologis.

  • Pemilihan warna hangat pada orangutan berhasil menciptakan pusat emosional.

  • Karakter cat air tetap dipertahankan melalui transparansi, sapuan spontan, dan atmosfer yang cair.

  • Komposisi asimetris memberi kesan gerak dan keterlibatan emosional.

  • Figur orangutan tidak diperlakukan sebagai objek eksotis, tetapi sebagai subjek yang memiliki perasaan dan posisi moral.

Hal yang Dapat Dikembangkan

  • Hubungan antara wajah orangutan dan objek transparan dapat dibuat lebih kuat melalui pengolahan ekspresi, arah pandang, atau aksentuasi cahaya.

  • Transparansi objek utama masih dapat diperdalam agar kesan kaca, bola air, atau ruang tertutup lebih meyakinkan secara optik.

  • Latar belakang dapat diberi beberapa area tenang atau negative space agar pusat perhatian semakin terarah.

  • Struktur perspektif pada lanskap miniatur dapat diperjelas apabila pelukis ingin menekankan aspek ruang yang lebih realistis.

  • Beberapa bentuk kayu dan percikan di bagian bawah dapat disederhanakan agar tidak bersaing dengan narasi utama.

  • Jika tujuan karya adalah kritik ekologis yang lebih tajam, tanda-tanda perubahan lingkungan dapat diperjelas secara selektif, misalnya melalui jejak penebangan, batas habitat, atau sisa-sisa intervensi manusia.

Pengembangan tersebut bukan berarti karya harus diarahkan menuju realisme fotografis. Justru kekuatan Missing Home terletak pada pertemuan antara bentuk figuratif dan bahasa ekspresif. Perbaikan sebaiknya tetap mempertahankan spontanitas cat air dan kualitas emosionalnya.

Penilaian Estetik dan Artistik

Secara estetik, Missing Home memiliki daya tarik yang berasal dari perpaduan antara keindahan warna dan kecemasan ekologis. Karya ini indah, tetapi tidak sepenuhnya nyaman untuk dinikmati. Keindahan tubuh orangutan dan lanskap hijau di dalam objek justru berhadapan dengan kesadaran bahwa alam tersebut mungkin hanya tersisa sebagai fragmen.

Secara artistik, karya ini berhasil mengubah isu konservasi menjadi pengalaman yang personal. Penonton tidak hanya diajak memahami bahwa habitat orangutan mengalami kerusakan, tetapi juga diajak membayangkan bagaimana rasanya merindukan tempat yang tidak lagi tersedia. Di titik inilah karya memperoleh bobot emosional dan konseptual.

Kekuatan utama lukisan bukan pada detail anatomi atau ketepatan perspektif, melainkan pada kemampuan membangun hubungan antara figur, objek, ruang, dan gagasan. Setiap unsur memiliki fungsi naratif: orangutan adalah subjek yang merindukan, bola transparan adalah rumah yang tersisa, pohon adalah simbol kehidupan, dan latar rusak adalah realitas kehilangan.

XIX. Kesimpulan Kritik

“Missing Home” adalah karya yang menggunakan sosok orangutan sebagai pintu masuk menuju persoalan yang jauh lebih besar: kehilangan habitat, kerusakan ekologis, dan hubungan manusia dengan alam.

Karya ini menarik karena tidak menyampaikan kritik dengan cara verbal atau propaganda. Pelukis memilih bahasa metafora.

Seekor orangutan memegang sebuah fragmen dunia yang pernah menjadi rumahnya.

Di luar fragmen tersebut, dunia telah berubah.

Pohon yang tersisa menjadi seperti ingatan yang dapat disentuh tetapi tidak dapat dikembalikan.

Di sinilah karya memperoleh kekuatan puitiknya.

Secara formal, perpaduan warna hangat pada tubuh orangutan dengan warna dingin dan kusam pada lingkungan menciptakan kontras yang efektif. Teknik cat air memberikan karakter transparan, spontan dan organik yang sesuai dengan tema alam. Komposisi diagonal memperkuat hubungan antara figur dengan fragmen habitat, sementara penggunaan ruang yang berbeda antara orangutan dan “rumahnya” membuka pembacaan simbolik.

Secara konseptual, Missing Home berhasil bergerak dari lukisan tentang orangutan menjadi lukisan tentang kehilangan.

Dan pada tingkat yang lebih dalam, karya ini berbicara mengenai sesuatu yang sangat manusiawi:

kerinduan terhadap rumah yang sudah tidak ada.

Ironisnya, “rumah” yang dirindukan orangutan dalam karya ini sebenarnya juga merupakan rumah kita semua—hutan, tanah, air, udara dan seluruh ekosistem yang memungkinkan kehidupan berlangsung.

Maka pesan paling kuat dari karya ini bukan sekadar:

“Selamatkan orangutan.”

Melainkan:

“Jangan sampai kita menjadi generasi yang masih memiliki kenangan tentang alam, tetapi tidak lagi memiliki alam untuk diwariskan.”

Dalam konteks seni rupa kontemporer, Missing Home memiliki potensi untuk dikembangkan lebih jauh menjadi bagian dari praktik seni ekologis, terutama apabila Corry Harysyahatullaely terus mengeksplorasi hubungan antara satwa, habitat, perubahan lingkungan dan pengalaman kehilangan melalui bahasa visual yang konsisten.

Pada akhirnya, karya ini mengingatkan kita bahwa kehilangan rumah bukan hanya persoalan tempat. Kehilangan rumah adalah kehilangan hubungan dengan kehidupan itu sendiri.

Catatan Kuratorial Singkat

Missing Home menghadirkan seekor orangutan yang memegang fragmen lanskap hijau di tengah lingkungan yang telah kehilangan vitalitasnya. Melalui cat air yang ekspresif, Corry Harysyahatullaely membangun kontras antara kehidupan dan kehancuran, antara rumah yang pernah ada dan ruang yang tersisa. Orangutan dalam karya ini bukan semata representasi satwa, melainkan metafora makhluk yang tercerabut dari habitatnya. Pohon yang berada dalam genggamannya hadir sebagai simbol rumah, memori dan kehidupan yang hilang. Dengan demikian, karya ini tidak hanya berbicara tentang orangutan, tetapi tentang krisis ekologis dan pertanyaan mendasar mengenai hubungan manusia dengan alam: ketika habitat dihancurkan, apa yang sebenarnya sedang kita hilangkan?

Image

 

 

 

Tentang Penulis

Lukman Zen adalah pegiat seni rupa, kurator, penulis, dan pendiri Galeri Baraya Seni Rupa Indonesia (GBSRI) yang sejak awal tahun 2000-an aktif mendorong pelestarian dan pengembangan seni budaya Indonesia, khususnya di Jawa Barat. Melalui berbagai kegiatan kuratorial, pameran, diskusi, publikasi, dan pemberdayaan komunitas, ia membangun ruang kolaborasi bagi seniman, budayawan, akademisi, dan masyarakat untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya bangsa. Selain aktif di dunia seni dan budaya, Lukman juga dikenal sebagai penulis yang mengangkat tema seni rupa, sejarah budaya, kearifan lokal, dan dinamika sosial budaya. Melalui karya-karyanya, ia berupaya menghadirkan perspektif yang edukatif, kritis, dan konstruktif, dengan keyakinan bahwa seni dan budaya merupakan fondasi penting dalam memperkuat identitas, karakter, dan peradaban masyarakat Indonesia.