![]()
Literasi Finansial, Pendidikan, Seni dan Budaya: Mempersiapkan Manusia di Tengah Perubahan Zaman

Pendahuluan: Ketika Pendidikan Berhadapan dengan Kehidupan Nyata
Setiap pagi, jutaan anak Indonesia berangkat ke sekolah. Mereka datang dengan seragam, membawa buku, mengikuti pelajaran, mengerjakan tugas, menghadapi ujian, memperoleh nilai, kemudian pulang.
Siklus itu berlangsung bertahun-tahun.
Namun ada sebuah pertanyaan sederhana yang layak kita renungkan:
Apakah sekolah benar-benar mempersiapkan anak untuk menjalani kehidupan?
Pertanyaan tersebut bukanlah kritik terhadap guru. Bukan pula penolakan terhadap sistem pendidikan. Guru tetap memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk generasi. Persoalannya jauh lebih besar: apa yang sesungguhnya kita harapkan dari pendidikan?
Apakah sekolah hanya bertugas mentransfer pengetahuan?
Apakah keberhasilan pendidikan cukup diukur melalui nilai ujian, ijazah dan kelulusan?
Ataukah pendidikan seharusnya mempersiapkan manusia agar mampu memahami kehidupan, mengambil keputusan, bekerja, menciptakan sesuatu, mengelola sumber daya, beradaptasi terhadap perubahan, menghargai budaya dan memiliki kemampuan untuk membangun masa depannya sendiri?
Di tengah perubahan dunia yang sangat cepat, pertanyaan tersebut menjadi semakin penting.
Hari ini seorang anak tidak hanya akan berhadapan dengan buku dan ruang kelas. Ia akan berhadapan dengan inflasi, pajak, cicilan, bunga bank, pinjaman digital, transaksi elektronik, investasi, perubahan teknologi, kecerdasan buatan, persaingan pekerjaan, perubahan industri, persoalan lingkungan, serta perubahan sosial dan budaya.
Ironisnya, banyak hal yang menentukan kualitas kehidupan seseorang justru baru dipelajari ketika seseorang telah terjun ke dalam kehidupan nyata.
Di sinilah persoalan buta finansial menjadi penting.
Literasi Finansial Bukan Sekadar Belajar Menghitung Uang
Literasi finansial sering kali dipahami secara sederhana sebagai kemampuan menabung atau mengatur pengeluaran.
Padahal jauh lebih luas.
Literasi finansial adalah kemampuan memahami bagaimana uang bekerja dan bagaimana seseorang mengambil keputusan ekonomi secara bertanggung jawab.
Seorang anak perlu memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Ia perlu memahami pendapatan, pengeluaran, anggaran, tabungan, utang, bunga, pajak, inflasi, risiko, investasi dan perencanaan masa depan.
Ia juga perlu memahami konsekuensi dari keputusan finansial.
Misalnya, seseorang membeli barang dengan cicilan. Yang perlu dipahami bukan hanya “berapa cicilannya setiap bulan”, tetapi juga berapa harga sebenarnya setelah bunga dan biaya lainnya.
Begitu pula dengan compound interest atau bunga berbunga. Konsep ini dapat menjadi kekuatan besar ketika digunakan dalam investasi jangka panjang, tetapi dapat menjadi beban ketika seseorang memiliki utang yang terus berkembang.
Anak-anak tidak harus menjadi ahli ekonomi.
Tetapi mereka perlu memiliki kesadaran ekonomi dasar untuk menjalani kehidupan.
OECD melalui PISA 2022 menempatkan literasi finansial sebagai kemampuan yang berkaitan langsung dengan keputusan kehidupan nyata. Dalam 14 negara OECD yang mengikuti asesmen finansial PISA 2022, rata-rata 18% siswa belum mencapai tingkat dasar literasi finansial. OECD juga menemukan bahwa siswa yang memperoleh pembelajaran mengenai istilah seperti upah, anggaran dan pinjaman bank di sekolah cenderung memiliki kemampuan finansial lebih baik. (OECD)
Artinya, persoalan ini bukan sekadar wacana.
Literasi finansial adalah bagian dari kecakapan hidup.
Inflasi: Pelajaran yang Tidak Berhenti di Buku Ekonomi
Bayangkan seorang anak menerima uang Rp20.000.
Hari ini uang tersebut mungkin cukup untuk membeli beberapa kebutuhan sederhana. Tetapi beberapa tahun kemudian, jumlah uang yang sama mungkin tidak lagi memiliki daya beli yang sama.
Inilah inflasi.
Sederhana, tetapi dampaknya sangat besar.
Seseorang yang tidak memahami inflasi dapat merasa bahwa menyimpan uang adalah satu-satunya bentuk keamanan finansial. Padahal, dalam jangka panjang, nilai riil uang dapat tergerus oleh kenaikan harga.
Maka pendidikan finansial seharusnya tidak berhenti pada:
“Menabunglah.”
Tetapi berkembang menjadi:
“Pahami bagaimana nilai uang berubah dari waktu ke waktu.”
Anak perlu diajak memahami hubungan antara pendapatan, harga barang, inflasi dan daya beli.
Pelajaran matematika dapat mengajarkan persentase. Pelajaran ekonomi dapat menjelaskan inflasi. Tetapi pendidikan yang baik harus membawa keduanya ke dalam kehidupan nyata.
Misalnya:
“Jika uang saku Rp500.000 per bulan, bagaimana cara mengaturnya?”
Dari pertanyaan sederhana itu, siswa dapat belajar membuat anggaran, membedakan kebutuhan dan keinginan, menentukan prioritas, menabung, serta mengevaluasi keputusan konsumsi.
Inilah pembelajaran yang hidup.
Pajak, Tagihan dan Dunia Nyata
Ketika seseorang memasuki dunia kerja, ia akan menemukan berbagai istilah yang sebelumnya mungkin hanya terdengar sebagai teori: pajak, BPJS, rekening listrik, internet, cicilan, biaya transportasi, biaya tempat tinggal, kontrak kerja dan berbagai kewajiban lainnya.
Kehidupan dewasa penuh dengan keputusan.
Karena itu, sekolah seharusnya menjadi tempat untuk berlatih mengambil keputusan sebelum benar-benar menghadapi risikonya.
Siswa dapat diberi simulasi sederhana.
Mereka diberi penghasilan hipotetis, kemudian diminta mengatur kehidupan selama satu bulan.
Ada kebutuhan pokok.
Ada transportasi.
Ada komunikasi.
Ada hiburan.
Ada tabungan.
Ada keadaan darurat.
Ada pajak.
Ada pilihan untuk membeli barang dengan cicilan.
Kemudian siswa melihat sendiri apa yang terjadi ketika pengeluaran lebih besar daripada pendapatan.
Dengan metode seperti itu, matematika menjadi hidup. Ekonomi menjadi nyata. Pendidikan karakter menjadi konkret.
Revolusi Industri: Dunia Berubah, Maka Pendidikan Harus Berubah
Kita tidak sedang hidup di dunia yang sama dengan generasi sebelumnya.
Revolusi Industri telah mengubah cara manusia bekerja. Dari mekanisasi, elektrifikasi, komputerisasi, internet, hingga otomatisasi dan kecerdasan buatan.
Pekerjaan berubah.
Profesi baru muncul.
Sebagian pekerjaan lama berkurang.
Kemampuan yang dibutuhkan industri juga berubah.
Karena itu, pertanyaan tentang pendidikan tidak cukup hanya:
“Apa yang harus diketahui siswa?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Apa yang harus mampu dilakukan siswa?”
Dunia kerja membutuhkan kemampuan memecahkan masalah, berkomunikasi, berkolaborasi, berpikir kritis, menggunakan teknologi, beradaptasi dan belajar sepanjang hayat.
Bank Dunia bahkan menegaskan bahwa pergi ke sekolah tidak sama dengan belajar. Kualitas pembelajaran dan keterampilan yang diperoleh siswa berpengaruh terhadap produktivitas mereka ketika dewasa dan terhadap kemampuan mereka memasuki pasar kerja. (World Bank)
Data PISA 2022 juga menunjukkan tantangan yang serius bagi Indonesia. Skor rata-rata siswa Indonesia berada pada 366 untuk matematika, 359 untuk membaca dan 383 untuk sains, dibandingkan rata-rata OECD masing-masing 472, 476 dan 485. (OECD Education GPS)
Data tersebut seharusnya tidak dibaca sebagai alasan untuk menyalahkan anak, guru atau sekolah.
Sebaliknya, data tersebut harus menjadi cermin untuk memperbaiki sistem.
Apakah Sekolah Hanya untuk Mencetak Pekerja?
Di sinilah muncul persoalan yang lebih mendasar.
Sering terdengar gagasan bahwa sekolah harus menghasilkan lulusan yang siap bekerja.
Gagasan tersebut penting, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya tujuan pendidikan.
Sebab manusia bukan sekadar tenaga kerja.
Jika pendidikan hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri, kita berisiko menciptakan generasi yang terampil bekerja tetapi kehilangan kemampuan untuk bertanya:
Untuk apa saya bekerja?
Apa yang ingin saya ciptakan?
Apa kontribusi saya bagi masyarakat?
Bagaimana saya memperlakukan lingkungan dan kebudayaan?
Manusia seperti apa yang ingin saya menjadi?
Di sinilah seni dan budaya memiliki posisi yang sangat penting.
Seni Bukan Pelajaran Tambahan
Dalam sistem pendidikan yang terlalu berorientasi pada angka, seni sering kali ditempatkan sebagai sesuatu yang berada di pinggir.
Padahal seni adalah ruang bagi manusia untuk mengembangkan imajinasi, kreativitas, kepekaan, ekspresi dan kemampuan membaca realitas.
Seorang anak yang belajar menggambar tidak hanya belajar membuat garis.
Ia belajar melihat.
Anak yang belajar musik tidak hanya belajar memainkan nada.
Ia belajar mendengar.
Anak yang belajar tari tidak hanya menghafal gerakan.
Ia belajar mengenali tubuh, ruang, ritme dan tradisi.
Anak yang mempelajari seni rupa juga belajar memahami simbol, sejarah, identitas dan cara manusia menyampaikan gagasan melalui visual.
UNESCO dalam Framework for Culture and Arts Education menempatkan seni dan budaya sebagai bagian penting dari pendidikan yang holistik. Kerangka tersebut menekankan kreativitas, berpikir kritis, keterampilan artistik, nilai, sikap dan pembelajaran sepanjang hayat. (UNESCO)
Bahkan UNESCO menegaskan pentingnya memasukkan budaya lokal dan warisan budaya dalam pembelajaran serta mengakui keterampilan artistik dan budaya dalam dunia profesional. (UNESCO)
Maka seni bukan sekadar kegiatan untuk mengisi waktu.
Seni adalah salah satu cara manusia belajar menjadi manusia.

Pendidikan, Seni dan Budaya sebagai Identitas
Indonesia tidak kekurangan budaya.
Kita memiliki ribuan tradisi, bahasa, karya seni, kerajinan, musik, tari, arsitektur, cerita rakyat dan pengetahuan lokal.
Namun pertanyaannya:
Apakah kekayaan tersebut benar-benar menjadi bagian dari pendidikan anak-anak kita?
Seorang anak di Garut, misalnya, seharusnya tidak hanya mengenal budaya Indonesia secara umum. Ia juga perlu mengenal lingkungan budayanya sendiri.
Mengenal seni tradisi.
Mengenal sejarah daerah.
Mengenal perajin.
Mengenal seniman.
Mengenal cerita masyarakat.
Mengenal lingkungan.
Kemudian bukan hanya menjadi penonton, tetapi mampu mengembangkan kekayaan tersebut menjadi gagasan baru.
Inilah hubungan antara budaya dan ekonomi kreatif.
Seni dan budaya dapat menjadi identitas sekaligus sumber kreativitas dan ekonomi.
Seorang anak yang mengenal budaya lokal dapat tumbuh menjadi seniman, desainer, fotografer, pembuat film, arsitek, pengusaha kreatif, kurator, peneliti, content creator atau berbagai profesi baru yang mungkin belum kita bayangkan hari ini.
Dengan demikian, pendidikan seni bukan berlawanan dengan dunia kerja.
Justru dapat menjadi bagian dari persiapan menghadapi dunia kerja masa depan.
Lalu, Apa Solusinya?
Persoalannya bukan apakah sekolah harus menambah pelajaran sebanyak-banyaknya.
Jika semua persoalan dijawab dengan menambah mata pelajaran, siswa justru semakin terbebani.
Solusinya adalah mengubah cara belajar.
- Literasi Finansial Harus Menjadi Kecakapan Hidup
Tidak harus menjadi mata pelajaran tersendiri.
Konsep finansial dapat masuk ke matematika, IPS, ekonomi, kewirausahaan bahkan proyek sekolah.
Siswa dapat belajar:
- membuat anggaran sederhana;
- membedakan kebutuhan dan keinginan;
- memahami inflasi;
- memahami pajak;
- memahami bunga bank;
- memahami compound interest;
- memahami utang dan risiko;
- memahami tabungan dan investasi;
- memahami transaksi digital;
- memahami penipuan finansial;
- dan membuat perencanaan keuangan sederhana.
Tujuannya bukan menciptakan anak menjadi investor.
Tujuannya adalah menciptakan manusia yang tidak mudah diperdaya oleh persoalan finansial.
- Sekolah Harus Lebih Banyak Menggunakan Simulasi Kehidupan
Pembelajaran tidak selalu harus berupa ceramah.
Siswa dapat diberikan proyek:
“Kelola kehidupan selama 30 hari.”
Mereka mendapatkan pendapatan virtual dan harus mengatur seluruh kebutuhan.
Ada kejadian tak terduga.
Ada kenaikan harga.
Ada tawaran kredit.
Ada pilihan investasi.
Ada kebutuhan sosial.
Dari sini siswa belajar mengambil keputusan dan menerima konsekuensinya.
Pembelajaran semacam ini jauh lebih dekat dengan kehidupan nyata.
- Dunia Pendidikan Harus Terhubung dengan Dunia Kerja
Sekolah tidak harus menjadi perusahaan.
Tetapi siswa perlu mengenal dunia kerja secara nyata.
Kunjungan industri, magang, proyek bersama pelaku usaha, kewirausahaan sekolah, praktik profesional dan mentoring dapat menjadi bagian dari pendidikan.
Dengan demikian siswa memahami bahwa pekerjaan bukan hanya tentang mencari gaji.
Pekerjaan juga tentang kemampuan menciptakan nilai.
- Seni dan Budaya Harus Dihidupkan Kembali
Sekolah dapat bekerja sama dengan seniman, komunitas budaya, galeri, museum, sanggar, perajin dan lembaga kebudayaan.
Siswa tidak hanya belajar teori seni.
Mereka dapat membuat pameran.
Membuat film dokumenter.
Mendokumentasikan budaya lokal.
Membuat karya desain.
Mempelajari kerajinan.
Meneliti sejarah lokal.
Membuat pertunjukan.
Mengembangkan produk kreatif.
Dengan demikian, seni menjadi pengalaman.
Dan budaya menjadi sesuatu yang hidup, bukan sekadar materi ujian.
- Orang Tua Harus Menjadi Bagian dari Pendidikan Finansial
Pendidikan finansial tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada sekolah.
OECD menemukan hubungan antara kebiasaan berdiskusi mengenai keputusan keuangan dengan kemampuan literasi finansial siswa. (OECD)
Karena itu, keluarga perlu membangun kebiasaan sederhana.
Anak dapat dilibatkan dalam membuat daftar belanja.
Membandingkan harga.
Menentukan prioritas.
Membahas penggunaan uang saku.
Belajar menabung.
Belajar berbagi.
Belajar memahami konsekuensi membeli sesuatu.
Dari rumah, anak mulai mengenal ekonomi kehidupan.
- Ukuran Keberhasilan Pendidikan Harus Diperluas
Nilai tetap penting.
Tetapi bukan satu-satunya ukuran.
Kita juga perlu bertanya:
Apakah anak mampu memecahkan masalah?
Apakah ia mampu bekerja sama?
Apakah ia mampu berkomunikasi?
Apakah ia kreatif?
Apakah ia mampu mengelola uang?
Apakah ia memiliki karakter?
Apakah ia mampu menghargai perbedaan?
Apakah ia mengenal budayanya?
Apakah ia mampu menciptakan sesuatu?
Apakah ia mampu belajar kembali ketika dunia berubah?
Jika jawabannya ya, maka pendidikan telah menghasilkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar angka di rapor.
Sekolah Seharusnya Menjadi Ruang Kehidupan
Sekolah tidak perlu meninggalkan pelajaran akademik.
Matematika tetap penting.
Bahasa tetap penting.
Sains tetap penting.
Sejarah tetap penting.
Tetapi semuanya perlu dihubungkan dengan kehidupan.
Matematika digunakan untuk memahami uang.
Sains digunakan untuk memahami lingkungan.
Bahasa digunakan untuk berkomunikasi dan membangun gagasan.
Sejarah digunakan untuk memahami identitas.
Seni digunakan untuk mengembangkan kreativitas dan kepekaan.
Budaya digunakan untuk memahami siapa kita.
Teknologi digunakan untuk menciptakan solusi.
Ekonomi digunakan untuk memahami bagaimana masyarakat bekerja.
Dengan pendekatan tersebut, sekolah tidak lagi menjadi tempat yang hanya mempersiapkan anak menghadapi ujian.
Sekolah menjadi tempat untuk mempersiapkan manusia menghadapi kehidupan.
Ke Mana Arah Pendidikan Kita?
Pada akhirnya, pertanyaan ini bukan hanya:
“Mengapa anak-anak kita tidak diajarkan literasi finansial?”
Pertanyaannya jauh lebih besar.
Manusia seperti apa yang ingin kita hasilkan melalui pendidikan?
Apakah kita ingin menghasilkan generasi yang patuh tetapi tidak kritis?
Generasi yang memiliki ijazah tetapi tidak mampu mengelola kehidupannya?
Generasi yang mampu bekerja tetapi tidak mampu menciptakan?
Generasi yang mengenal teknologi tetapi kehilangan kebudayaannya?
Ataukah kita ingin membangun generasi yang cerdas, mandiri, kreatif, berkarakter, memiliki kemampuan finansial, memahami teknologi, menghargai seni dan budaya, serta mampu beradaptasi dengan perubahan zaman?
Jawaban atas pertanyaan tersebut akan menentukan arah pendidikan.
Dan pada akhirnya, menentukan arah bangsa.
Penutup: Pendidikan untuk Manusia, Bukan Sekadar Lulusan
Pendidikan seharusnya tidak berhenti ketika anak memperoleh ijazah.
Sebab kehidupan tidak pernah memberikan ijazah.
Kehidupan memberikan persoalan.
Kehidupan memberikan pilihan.
Kehidupan memberikan risiko.
Dan kehidupan menuntut manusia untuk mengambil keputusan.
Karena itu, sekolah harus membekali anak bukan hanya dengan apa yang harus diketahui, tetapi juga bagaimana menggunakan pengetahuan tersebut untuk menjalani kehidupan.
Literasi finansial membuat manusia lebih mampu mengelola sumber daya.
Teknologi membuat manusia mampu beradaptasi dengan perubahan.
Pendidikan karakter membangun tanggung jawab.
Seni menumbuhkan kreativitas dan kepekaan.
Budaya memberikan identitas dan akar.
Ilmu pengetahuan memberikan kemampuan memahami dunia.
Jika semuanya dapat berjalan bersama, pendidikan tidak hanya menghasilkan pekerja.
Ia menghasilkan manusia.
Dan mungkin inilah pertanyaan paling penting yang perlu kita ajukan kepada sistem pendidikan kita hari ini:
Apakah kita sedang mendidik anak-anak untuk sekadar mendapatkan pekerjaan, atau sedang mempersiapkan mereka untuk menjalani kehidupan?
Sebab masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi gedung sekolah dibangun, seberapa banyak siswa lulus, atau seberapa tebal buku pelajaran.
Masa depan Indonesia ditentukan oleh manusia seperti apa yang keluar dari sekolah-sekolah itu.
Di tengah Revolusi Industri, perkembangan kecerdasan buatan, perubahan ekonomi dan arus globalisasi budaya, kita membutuhkan pendidikan yang tidak kehilangan manusia.
Pendidikan yang mengajarkan ilmu, tetapi juga kehidupan.
Pendidikan yang mengenalkan teknologi, tetapi tidak melupakan budaya.
Pendidikan yang mempersiapkan pekerjaan, tetapi tidak menghilangkan kreativitas.
Dan yang paling penting:
pendidikan yang tidak hanya membuat manusia menjadi pintar, tetapi membuat manusia mampu berpikir, mencipta, memilih, bertanggung jawab dan memberi makna bagi kehidupannya.
Itulah pendidikan yang seharusnya kita perjuangkan.
Referensi keilmuan yang menjadi pijakan
Artikel di atas sengaja tidak hanya menggunakan perspektif ekonomi, tetapi menghubungkan pendidikan, ekonomi, psikologi pembelajaran, seni-budaya, ketenagakerjaan, dan pembangunan manusia.***
Beberapa rujukan utama:
- OECD – PISA 2022 Results, Volume IV: How Financially Smart Are Students? — menjadi rujukan utama untuk pembahasan literasi finansial siswa, perilaku keuangan, peran keluarga, serta pentingnya pendidikan finansial di sekolah. (OECD)
- OECD – Student Financial Literacy — untuk konsep literasi finansial sebagai kemampuan mengambil keputusan finansial dalam kehidupan nyata. (OECD)
- OECD – Education GPS: Indonesia, PISA 2022 — untuk data performa pendidikan Indonesia dalam matematika, membaca dan sains. (OECD Education GPS)
- World Bank – The Promise of Education in Indonesia — untuk hubungan antara kualitas pembelajaran, keterampilan, produktivitas dan kesiapan memasuki pasar kerja. (World Bank)
- UNESCO – Framework for Culture and Arts Education — untuk landasan bahwa pendidikan seni dan budaya berhubungan dengan kreativitas, berpikir kritis, nilai, keterampilan artistik dan pembelajaran sepanjang hayat. (UNESCO)
- UNESCO – Global Framework for Culture and Arts Education — khususnya mengenai penguatan budaya lokal/warisan budaya dalam pendidikan serta pengakuan keterampilan seni dan budaya dalam dunia profesional. (UNESCO)

Tentang Penulis
Lukman Zen adalah pegiat seni rupa, kurator, penulis, dan pendiri Galeri Baraya Seni Rupa Indonesia (GBSRI) yang sejak awal tahun 2000-an aktif mendorong pelestarian dan pengembangan seni budaya Indonesia, khususnya di Jawa Barat. Melalui berbagai kegiatan kuratorial, pameran, diskusi, publikasi, dan pemberdayaan komunitas, ia membangun ruang kolaborasi bagi seniman, budayawan, akademisi, dan masyarakat untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya bangsa. Selain aktif di dunia seni dan budaya, Lukman juga dikenal sebagai penulis yang mengangkat tema seni rupa, sejarah budaya, kearifan lokal, dan dinamika sosial budaya. Melalui karya-karyanya, ia berupaya menghadirkan perspektif yang edukatif, kritis, dan konstruktif, dengan keyakinan bahwa seni dan budaya merupakan fondasi penting dalam memperkuat identitas, karakter, dan peradaban masyarakat Indonesia.




