Pameran Seni lukis “Berkarya Tanpa Batas” HIPSIK

Loading

PAMERAN SENI LUKIS “BERKARYA TANPA BATAS”
HIMPUNAN PERUPA TASIKMALAYA (HIPSIK)
TAHUN 2026

Kehadiran karya seni pada awalnya merupakan hasil  kreativitas seniman dalam menanggapi objek atau kondisi-kondisi tertentu, yang kemudian divisualisasikan dalam wujud yang “menarik”, melalui media tertentu, dengan teknik, gaya yang dipilihnya. Para seniman melakukan strategi kreatif untuk mentransformasikan berbagai realitas yang terjadi dengan persfektif dan kreativitasnya masing-masing. Di dalam mentransformasikan ide dan gagasannya, para seniman telah menghadirkan karya seni, buah dari kesadaran estetik mereka dalam mengembangkan interpretasi pribadinya yang dilakukan oleh dan berdasarkan visi seniman terhadap kehidupan, yang kemudian direfleksikan ke dalam sebuah karya. Hasil refleksi seniman, menghasilkan karya yang tidak hanya berfungsi untuk pemenuhan kebutuhan estetik seniman saja, tetapi lebih dari itu, karya yang dihasilkan menjadi media komunikasi seniman dengan masyarakat. Dalam hal ini para seniman memanfaatkan karya seni untuk menyampaikan pandangan, aspirasi, ide dan gagasan kreatifnya kepada masyarakat.

Pengungkapan ekspresi melalui kesenian, pada kenyataannya lebih dapat diterima dan banyak dinikmati oleh masyarakat luas. Mengenai hal tersebut, Djelantik mengungkapkan bahwa pada kenyataannya pengungkapan sesuatu gagasan lebih menyusup ke dalam jiwa manusia bila disajikan dalam wujud kesenian dari pada cara lain seperti ceramah, surat, selebaran dan sebagainya. Kesenian mempunyai kelebihan karena mampu menggugat perasaan manusia secara langsung.

Diantara berbagai ekspresi seni yang telah dihasilkan, seni lukis merupakan salah satu hasil ekspresi dan kreativitas seniman dalam mengolah berbagai medium dan unsur seni pada bidang datar dua dimensional yang mengekspresikan berbagai makna atau nilai subjektif. Dalam hal ini, kehadiran seni lukis tidak hanya bersinggungan dengan masalah medium atau unsur seni saja, tetapi lebih dari itu, dalam seni lukis terdapat suatu rangkaian proses dan hubungan yang tak terpisahkan antara proses penciptaan karya seni dengan realitas yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.

Bagi seniman, melukis merupakan media untuk mengekspresikan berbagi hal yang ada dalam pikirannya. Termasuk di dalamnya menyampaikan isi hati dan perasaan seniman, yang mungkin selama ini sulit disampaikan. Melalui lukisan, mereka mendapat ruang dan kebebasan berekspresi. Oleh karenanya tidaklah mengherankan, apabila kita sering menemukan keragaman ide dan gagasan seniman dalam setiap karya yang dihasilkan. Hal tersebut disebabkan oleh dinamisnya kehidupan seniman serta orientasi berkesenian seniman selama ini. Banyak diantara mereka yang memanfaatkan media lukisan ini, sebagai “outlet” dari kejenuhan dan kebekuan kreativitas yang selama ini dirasakannya.

Lewat lukisan yang dihasilkannya, seniman ingin membaca dirinya sendiri, membaca orang lain, atau membaca kehidupan yang lebih luas lagi. Oleh karenanya, berkarya bagi seorang seniman, merupakan kewajiban moral dan profesi yang harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Untuk menuju ke arah sana, maka seorang seniman dituntut untuk memiliki tingkat kepekaan, pengamatan, dan daya berpikir tinggi dalam menyerap berbagai fenomena yang terjadi di sekitarnya. Selain itu, di dalam mengekspresikan gagasan kreatifnya, para seniman tidak secara langsung mentransfer apa yang akan ia hasilkan lewat karyanya. Para seniman biasanya melakukan tahapan pengamatan dan evaluasi terhadap berbagai hal yang ada hubungannya dengan objek yang akan dibuat menjadi karya. Selain itu, para seniman tidak berhenti untuk mencari, belajar dan berkomunikasi dengan masyarakat disekitarnya. Bagi para seniman, apa yang dilihat dan terjadi di sekitarnya, merupakan memori estetik yang memperkaya wawasan dan cara pandang seniman dalam berkesenian.

Berpijak dari pandangan di atas, Himpunan Perupa Tasikmalaya (HIPSIK) pada tanggal 21 Juli s.d 28 Juli 2026, menggelar pameran seni lukis “Berkarya Tanpa Batas” di Gedung PPIK Kota Tasikmalaya. Kegiatan yang diikuti oleh 40 pelukis tersebut, dilaksanakan dalam rangka meningkatkan apresiasi seni masyarakat, memberi kesempatan kepada para pelukis untuk mengisi “panggung seni budaya” di Kab/Kota Tasikmalaya, mempromosikan potensi seni dan budaya Kab/Kota Tasikmalaya, serta yang paling utama yaitu membangun kerjasama dan kemitraan yang baik antara seniman dengan pihak-pihak yang peduli terhadap peningkatan kegiatan seni budaya di Kab/Kota Tasikmalaya.

Sebagai salah satu wahana untuk meningkatkan apresiasi masyarakat, kegiatan di atas menyiratkan adanya “proses kolaborasi” seluruh pelukis dalam mencari, menemukan dan mengasilkan “karya” yang berguna bagi pemenuhan kebutuhan “estetis dan rohani” mereka. Oleh karenanya kegiatan pameran seni lukis “Berkarya Tanpa Batas” kali ini “bukanlah sebuah benda mati”, melainkan sebuah kerja, sebuah upaya strategis, sebuah perjuangan. Pengejawantahan dari kebutuhan manusia, yang di dalamnya tidak hanya terikat pada norma, adat istiadat, tradisi, kaidah dan benda-benda yang bernilai kultural saja, tetapi lebih dari itu, di dalam pameran seni lukis “Berkarya Tanpa Batas” dibutuhkan proses penerimaan, penerusan, penilaian, bahkan “reform” terhadap berbagai hal yang “telah” ada menjadi sesuatu yang lebih baru dan bermakna bagi kehidupan manusia, khususnya para pelukis secara keseluruhan.

Terkait kegiatan di atas, Jamal Mural selaku Ketua Himpunan Perupa Tasikmalaya (HIPSIK) menyampaikan bahwa kegiatan pameran seni lukis “Berkarya Tanpa Batas”, merupakan wahana untuk meningkatkan silaturahmi dan komunikasi diantara pelukis, juga sebagai media untuk mengekspresikan potensi dan kreativitas pelukis dalam berkarya. Dalam hal ini, potensi dan kreativitas yang dimaksud, yaitu potensi untuk mengeksplorasi dan mengaplikasikan materi serta gagasan seni ke dalam sebuah karya dengan kreativitasnya masing-masing. Dengan kemampuannya itu, maka diharapkan kegiatan pameran seni rupa dan halalbihalal kali ini, dapat menampilkan karya seni rupa dengan berbagai medium, teknik, ide dan interpretasi pribadi dalam menggambarkan realitas yang dipilih untuk divisualisasikan. Dalam persfektif ini, tentunya ada diversifikasi dan intensifikasi dalam mengeksplorasi dan mengaplikasi materi dan gagasan seni yang dilakukan oleh pelukis dalam mewujudkan gagasan-gagasan kreatifnya dalam berkarya.

Untuk kegiatan pameran seni lukis “Berkarya Tanpa Batas” kali ini, peserta yang akan terlibat yaitu; Hj. Rukmini Yusuf Affandi, Acep Zamzam Noor, Rendra Santana, Herman PG, Jamal Mural, Nana Suryana (Nansfineart), Trina Puspasari, Yusa Widiana, Tono Haryono, Ligar Balebat, Anang Rusmana, Hj. Lucky Lukita, M. Miswar Assidqi (Sidqi), Fitri Mayasari (Triya), Sutiyaman, Piyan Sopian, Erna Ergantiwi Sumaryati, Gita Fadzilatus, Hanina, R. Billa, Zenal, Lia Puspitasari, Alm. R. Jonny Guntoro, Soni Mandriana, Wandi, Dida Rusdi, Agoes, Enceh Muiz Ali, Adil Dahlan, Oyok Zafarulloh (Yock), Hikmat Hadiat, Aima, Melia, Asep Wawan, Eri Aksa, Irvan Mulyadie dan Yokanaori.

Kegiatan pameran seni lukis “Berkarya Tanpa Batas” menjadi “kegiatan penting”, bukan hanya karena pameran ini menyajikan karya-karya seni yang “unik dan menarik”, tapi juga lewat pameran ini, ke-40 orang pelukis Tasikmalaya dengan bakat dan kreativitasnya, berhasil mengeksplorasi dan mengaplikasi materi serta gagasan seni ke dalam karya dengan pendekatan yang sifatnya individualistik. Masing- masing pelukis memiliki gaya dan karakter yang khas dalam berekspresi. Termasuk di dalamnya kecermatan dalam “memilih sumber inspirasi kreatif”, untuk selanjutnya ditransformasikannya ke dalam karya lukis.

Terkait sumber inspirasi kreatif yang dipilih para pelukis dalam pameran kali ini, saya melihat adanya ketertarikan beberapa pelukis untuk menghadirkan karya yang erat kaitannya dengan bidang individual dan bidang sosial kemasyarakatan. Termasuk di dalamnya bagaimana mereka mencoba menggali hubungan yang harmonis antara kehidupan manusia dengan banyak hal. Misalnya; hubungan manusia dengan diri sendiri (bidang individual), hubungan manusia dengan cinta kasih, hubungannnya dengan manusia lain atau alam (bidang sosial kemasyarakatan), hubungan antara manusia dan alam, hubungan antara manusia dan harapan, hubungan antara manusia dan tradisi. Sama halnya dengan bidang yang lain (baik dalam teater, tari, musik dan film), bidang-bidang tersebut itulah yang menjadi sumber inspirasi kreatif yang tak habis digali.

Dengan demikian, dalam konstelasi kehidupan yang luas, fungsi lukisan yang dihasilkan, secara umum dapat pula dimaksudkan sebagai suatu upaya ikut andil dalam menjaga, memelihara dan mengembangkan nilai-nilai kehidupan keagamaan, kemasyarakatan dan kemanusiaan. Jika di atas dikemukakan bahwa kecenderungan tematik karya lukis yang dihasilkan berkenaan dengan tanggapan evaluatif para pelukis terhadap masalah manusia dalam hubungannnya dengan diri sendiri (bidang individual), dalam hubungannnya dengan manusia lain atau alam (bidang sosial kemasyarakatan), dan dalam hubungannnya dengan tuhan/keagungan tuhan atas segala penciptaannya (bidang agama), hal itu tidak berarti bahwa tema-tema yang dipilih tidak saling berhubungan. Tema-tema personal bisa sekaligus merupakan tema sosial dan agamis. Sebaliknya, tema agamis bisa saja menjangkau tema lain.  Hal ini tampaknya sangat penting dalam proses kreatif seorang pelukis. Karenanya, orang tidak salah secara ekspresif, jika memahami dan mengevaluasi dalam persfektif estetika yang selalu bertautan.

Lukisan “Jalan Pulang” (Akrilik dan Kanvas, ukuran 70 Cm X 80 Cm) Karya Asep Wawan

Sebagai contoh karya yang erat hubungannnya dengan diri sendiri (bidang individual) tercermin dalam karya Asep Wawan berjudul “Jalan Pulang” (Akrilik dan Kanvas, ukuran 70 Cm X 80 Cm). Lukisan tersebut pada hakekatnya merupakan ekspresi self-evaluation. Melalui lukisan tersebut, pelukis ingin “menemukan eksistensi dirinya” untuk mendapatkan “ruang dan kesempatan” menemukan apa yang diharapkannya. Dengan begitu, dia mendapatkan pencerahan yang membantunya untuk meningkatkan kualitas dirinya. Selain itu, lewat lukisan yang dihasilkannya, Asep Wawan berusaha untuk memunculkan keyakinannya untuk “mendapatkan jalan” yang bernilai, bermanfaat dan memudahkan dirinya untuk menemukan apa yang dicarinya selama ini.

Lukisan “Kiss Series” (Cat dan Carbon, ukuran 60 Cm X 70 Cm) Karya Adil Dahlan

Contoh lain karya yang menggambarkan adanya hubungan manusia dengan cinta kasih, tercermin dalam lukisan karya Adil Dahlan yang berjudul “Kiss Series” (Cat dan Carbon, ukuran 60 Cm X 70 Cm). Dalam lukisannya, Adil Dahlan berusaha menampilkan karya seni yang menggambarkan pasangan yang sedang berciuman (kiss), biasanya dengan gaya yang ekspresif dan simbolis (menggunakan ciuman sebagai simbol cinta, keintiman, dan kebahagiaan). Lukisan tersebut menarik, karena pembuatnya berhasil menghadirkan karya yang memiliki makna yang dalam tentang cinta, kasih sayang, dan hubungan manusia (menampilkan “kemesraan dan kebahagiaan” dalam cinta). Selain itu, Adil Dahlan juga berhasil memasuki, menemukan nilai, menggarap dan merangkum memori estetik yang bertebaran dalam pikiran dan imajinasinya.

Lukisan “Desa Citiis Sekitar Gunung Galunggung” (ukuran 80 Cm X 100 Cm) karya Hj. Rukmini Yusuf Affandi

Contoh lain yang erat hubungannnya dengan manusia lain atau alam (bidang sosial kemasyarakatan) sebagai sumber inspirasi, tercermin dalam lukisan yang berjudul “Desa Citiis Sekitar Gunung Galunggung” (ukuran 80 Cm X 100 Cm) karya Hj. Rukmini Yusuf Affandi. Lukisan dengan media kanvas dan cat acrylik tersebut, dibuat dengan menggunakan 90 % keterampilan tangan sebagai “alat” untuk “mencurahkan/memindahkan cat tube ke atas kanvas dan sisanya menggunakan kuas 10 %, untuk menyempurnakan detail-detail objek tertentu. Pemilihan ide, media dan teknik dalam karya di atas, memungkinkan orang lain seolah-olah berada dan menjadi bagian dari situasi yang dibangun lewat karya tersebut. Dalam hal ini, Hj. Rukmini Yusuf Affandi memiliki daya ingat, kepekaan dan pengamatan yang detail dalam melihat objek yang akan di lukis. Selain itu, ketertarikan Hj. Rukmini Yusuf Afandi untuk menghasilkan karya di atas, pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dari adanya ketertarikan dia terhadap objek “Desa Citiis Gunung Galunggung”. Pemilihan Desa Citiis Gunung Galunggung sebagai objek lukisan, didasari oleh adanya potensi “pesona alam” yang ditawarkan tempat tersebut. Dalam hal ini, kehadiran Lukisan tersebut “menarik” karena pembuatnya berhasil memasuki, menemukan nilai, menggarap dan merangkum momen estetik yang bertebaran dalam pikiran dan imajinasinya. Untuk selanjutnya mengemasnya sebagai “bangunan tematik” yang sarat dengan Bahasa visual dan keindahan yang ingin disampaikan.

Lukisan “Gunung Galunggung” (ukuran 130 Cm X 135 Cm) karya Rendra Santana

Contoh lain yang menggambarkan hubungan antara manusia dan alam, tercermin dalam lukisan yang berjudul “Gunung Galunggung” (ukuran 130 Cm X 135 Cm) karya Rendra Santana. Lukisan dengan media cat minyak dan kanvas tersebut, menghadirkan objek “Gunung Galunggung” sebagai sumber inspirasi dalam melukis. Rendra Santana tampaknya sangat terkesan dengan keindahan gunung tersebut. Di sisi yang lain, Rendra Santana Juga berusaha untuk menghadirkan objek Payung Geulis yang digabungkan dengan elemen tak biasa (pegangan bambu hidup) dalam lukisan tersebut. Kombinasi ini menciptakan suasana magis, mengundang imajinasi dan refleksi, serta mengajak imajinasi kita untuk melihat “keindahan dalam ketidakbiasaan”. Visualisasi objek Gunung Galunggung dan Payung Geulis tersebut, secara simbolis mengajak kita merenungkan hubungan manusia dengan alam, di mana budaya dan kekuatan alam bersatu untuk melindungi hidup dan kehidupan kita secara keseluruhan. Gunung Galunggung di mata Rendra Santana, merupakan mahakarya alam ciptaan Tuhan YME yang sangat mempesona. Dengan danau kawah yang biru, dikelilingi tebing curam dan hutan hijau, menciptakan pemandangan yang indah dan dramatis. Keindahan ini tidak hanya memanjakan mata, tapi juga menginspirasi kreativitas dan ketenangan jiwa. Sementara itu, Payung Geulis di mata Rendra Santana, merupakan mahakarya budaya Sunda yang sangat mempesona. Dengan motif anyaman bambu yang rumit dan warna-warna cerah, payung ini bukan hanya pelindung hujan, tapi juga simbol keindahan dan keanggunan. Kolaborasi objek Gunung Galunggung (kekuatan alam) dan Payung Geulis (kelembutan budaya) tersebut, pada akhinya menciptakan keseimbangan visual yang menarik dan mempesona, serta menjadi sumber Inspirasi kreatif yang tak habis untuk di gali.

Lukisan “merajut kini dan esok” (acrylic on canvas, ukuran 70 Cm X 90 Cm) karya Soni Mandriana

Contoh lain lukisan yang menggambarkan adanya hubungan antara manusia dan harapan, tercermin dalam lukisan yang berjudul “merajut kini dan esok” (acrylic on canvas, ukuran 70 Cm X 90 Cm) karya Soni Mandriana. Lukisan tersebut memberi gambaran tentang rasa “optimisme” atau berpandangan baik dalam menghadapi segala hal, yang selalu hadir dalam diri sang pelukis. Dalam hal ini, Soni Mandriana menyadari dengan “merajut”, meskipun perlu poses panjang dan sabar, pada akhirnya akan mengantarkan dia pada tujuan yang ingin di capainya (merajut merupakan salah satu cara dia untuk mengejar impiannya). Untuk mentransformasikan apa yang diharapkannya itu, Soni Mandriana menghadirkan “lukisan abstrak” sebagai pilihan ekspresinya. Dalam hal ini, dia berupaya untuk menghadirkan simbol dan berbagai bentuk yang tidak ada wujud fisik/konkretnya di alam dunia (misal figure & pemandangan), yang digarap dengan coretan/pulasan cat yang “ekspresif”, tapi tetap memperhatikan ide dan gagasan unsur-unsur seni rupa.

Contoh lain yang menggambarkan adanya hubungan antara manusia dan tradisi, tergambar dalam lukisan yang berjudul “Gagahna Jabar” (Mix Media Acrilic dan Cangkang Telur, ukuran 60 Cm X 70 Cm) karya Trina Puspasari. Dalam lukisan tersebut, dia berusaha untuk menghadirkan objek “Gedung Sate Bandung”, salah satu warisan budaya yang sangat ikonik di Jawa Barat. Gedung Sate bukan hanya bangunan, tapi simbol identitas dan kebanggaan masyarakat Jawa Barat. Arsitektur yang unik dan sejarahnya yang kaya membuatnya menjadi ikon Bandung/Jawa Barat yang tak tergantikan. Kemampuan Trina Puspasari mengadirkan objek Gedung Sate dalam lukisan “Gagahnya Jabar” sebagai sumber inspirasi dan ide kreatifnya, patut diapresiasi positif oleh masyarakat. Dalam hal ini, dia berusaha untuk memunculkan pesan-pesan yang bersifat atau dapat dimaknai dalam persfektif kebudayaan dan sejarah yang mengakar kuat di Daerah Jawa Barat. Selain itu, mengangkat objek “Gedung Sate” sebagai ide seni, pada akhirnya diharapkan mampu membuka ruang dan kesempatan bagi siapapun untuk mendapatkan eksistensial kehidupannnya.

Lukisan “Gagahna Jabar” (Mix Media Acrilic dan Cangkang Telur, ukuran 60 Cm X 70 Cm) karya Trina Puspasari

Hal-hal itulah yang kiranya bisa saya amati dari pameran kali ini. Lepas dari itu, karya lukis yang dihasilkan bisa memberi bias yang lebih jauh lagi dari sekedar kumpulan karya yang dipamerkan, dan hanya menjadi “dokumen idealis” para pelukis saja. Tetapi diharapkan mampu memberi penyadaran kritis atas kondisi yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Dalam hal ini, para pelukis berusaha membuka “ruang dialogis dan tegur sapa wacana” dengan seluruh masyarakat melalui karya-karya yang dipamerkan. Dengan “bahasa rupa yang enak dipandang”, dan lalu dengan mata batin diharapkan dapat memberi kebaikan bagi anda yang tengah mengapresiasi.***

 

Piyan Sopian,
Guru SMAN 1 Jatiwaras Kabupaten Tasikmalaya.
Anggota Himpunan Perupa Tasikmalaya (HIPSIK) dan
Gallery Baraya Seni Rupa Indonesia (GBSRI)